Hari ini: Senin, 21 April 2014 06:50
Barometer Otomotif Terkini

Modifikasi Motif dalam Batik Balikpapan

Rabu, 2 November 2011 16:05
Modifikasi Motif

Griyawisata.com, Sepintas lalu, bila motif batik Kalimantan Timur ini dilihat seperti ragam hias yang terdapat pada tameng atau ornamen pada topi khas Dayak ‘seraung’. Motifnya cenderung sangat sederhana karena garis dan titik yang menjadi ciri khas batik pada umumnya jarang ditemukan pada batik ini.Menurut Budi Haryati dari ‘Batik Shaho’, sebagian besar motif batik Kaltim (Kalimantan Timur) mengadopsi motif motif dari suku Dayak, seperti Dayak Kenyah dan Dayak Shaho. Ciri khas batik dari Kalimantan Timur ini, antara lain mempunyai warna warna cerah atau ’jreng’, misalnya merah, hitam, hijau, kuning, dan biru.Bentuk motifnya juga sangat banyak, di antaranya adalah patung dan tameng. Jenis kainnya untuk batik tulis ini adalah katun dan sutera, sedangkan untuk jenis kain tissue itu merupakan kain bermotif batik. “Kalau di Balikpapan, orang lebih senang memakai kain berwarna ’jreng’ yang bermotif batik,” jelas Haryati pada Handicraft Indonesia.Keinginan Haryati mengembangkan batik ini adalah agar orang orang Kalimantan senang dengan batik daerahnya. “Tak perlu datang ke Jawa untuk membelinya, di sini pun ada. Sementara ini, bahan dibeli dari Solo dan sudah menjadi langganan,” ungkapnya menambahkan.Desain MotifBatik Kalimantan ini merupakan pengembangan dari batik batik yang sudah ada sebelumnya di Jawa. “Hanya saja, orang orang yang mengembangkannya, termasuk saya mencoba mengadopsi motif motif ukiran kayu menjadi motif batik. Kita juga mempelajari proses pembuatannya di Balai Batik,” ujar Haryati.Motif batik dari Kaltim ini memiliki beberapa bentuk desain baru. “Awalnya ketika melatih tenaga untuk batik tulis, kebetulan saya dibantu suami, Supratono, yang kemudian membuat desain baru, yaitu motif tetes minyak dan kantong semar,” tutur Haryati yang memiliki showroom dan workshop di dekat rumahMenurut Haryati, proses pembuatan batik tulis seperti halnya pengolahan batik yang sudah ada, yaitu dipola, dicanting, diwarna sampai pada proses pencelupan dan sebagainya. “Kadang ada juga orang asing yang datang ke workshop saya untuk belajar membatik, walaupun itu hanya sekedar mencanting saja,” ujarnya bangga.PemasaranHarga batik batik tersebut bervariasi karena tergantung dari jenis kain dan proses pembuatannya. Karena itu, ada yang dijual per meter, ada pula yang per potong, dan ada pula yang dipasarkan siap pakai. “Awalnya saya membuat batik untuk kebutuhan seragam sekolah dengan kain katun. Untuk yang jenis kainnya katun dan proses membatiknya menggunakan teknik printing bukan sablon, harga per meternya bisa Rp 15.000,” jelas Haryati.Untuk batik sutera harganya lebih mahal, tapi itu relatif tidak semuanya sama. Ada yang menjual batik sarimbit (sepasang untuk suami istri) dengan harga Rp 1,4 juta dan ada yang Rp 1,8 juta. Sedangkan harga yang sedang, seperti katun printing ada yang Rp 25.000 dan untuk batik tulisnya mungkin lebih mahal. Sementara itu, untuk bentuk batik siap pakai juga bermacam macam, misalnya yang katun printing Rp 65.000 per buah, untuk batik tulis bisa Rp 150 ribu dan sutera mencapai Rp 400 ribu. Pemasaran sementara ini ke sekolah sekolah dan instansi instansi. Ada yang jenis kainnya primisima, stelan selendang, dan sarung.

Menurut Haryati, produksi batik dilakukan kontinyu walaupun jumlahnya tidak tentu per bulannya. Ini karena batik tidak setiap hari laku terjual, seperti di Jogja atau Solo. “Walaupun begitu, kami tetap memproduksi untuk seragam anak sekolah dan kebanyakan konsumen saya adalah orang asing yang tinggal di Balikpapan. Kadang mereka memesan taplak meja batik bermotif Kalimantan untuk meja yang memuat 8 orang. Ukuran yang demikian besar kalau di pasaran jarang ditemukan, jadi mereka harus memesan,” demikian paparnya.
Haryati juga menjelaskan bahwa yang menjadi kendala utama adalah masalah SDM (tenaga kerja). Penduduk di sana kebanyakan lebih menyukai pembuatan barang yang instan. “Jadi untuk membuat barang yang terlalu rumit, mereka kadang tak telaten. Biasanya mereka cukup bekerja yang sekali jadi dan langsung mendapat uang,” ujarnya.

Maka dari itu, industri kerajinan di sana jarang berkembang. Bahkan tenaga kerja bekerja tergantung pesanan. “Kalau pekerjaan banyak ya banyak juga tenaganya, itu untuk yang printing, sedangkan yang mengerjakan batik tulis baru saja melatih 15 tenaga baru,” tandas Haryati di akhir perbincangan.

Baca juga:
Rating artikel: icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full (1 rates)
Rating
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda
   
Redaksi: redaksi@griyawisata.com
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi :
Telepon 021-574 7053 · Fax 021-824 33 979
Raymond di 0812-881-230-00 · raemond@mustangcorps.com · Blackberry: 3000AC19
Barometer Properti Terkini

Follow Us!

Iklan Niaga

Solusi Promosi Hemat Produk-produk Perusahaan Anda, Dan Dapatkan Target Terbaik. Hub. 0215747057, 02182434009
Pusat Tiket Promo Online Untuk Tujuan Domestik, Internasional, Seat Terbatas, Buruan Booking..... Resv: 0215747057
Cari Hotel Bersih, Murah ? Dapatkan Benefit Dari Reservasi Kami Dan Kami Berikan Harga Terbaik. Resv : 0215747057
Rencanakan Perjalanan Keluarga Anda Dengan Wisata Hemat Ke Bali, Lombok Dan Destinasi Lainnya. Informasi

TOUR & TRAVEL GUIDE

Kiat Merawat Bibir Agar Tetap Sehat
GriyaWista.com  -  Walau wajah bersinar, namun bibir tidak sehat, tentu tidak menarik jika dilihat. Berikut tips merawat bibir.

Trik Atasi Kulit Kusam
GriyaWisata.com - Kulit kusam merupakan sesuatu yang tidak di inginkan oleh semua kalangan apalagi pada wanita, karena wanita selalu ingin terlihat menarik dan selalu tetap cantik tapi kurangnya tidur dan gaya hidup yang kurang sehat dapat menimbulkan kekusaman pada kulit.