Tebalnya Salju Swiss Yang Dinikmati
SWISS, GRIYAWISATA.com - Menikmati musim dingin Swiss tak hanya bermain ski di lereng Alpen. Krisna Diantha, koresponden SINDO di Swiss, memilih membangun iglo, sekaligus menginapinya semalaman. Pengalamannya bermalam di rumah dari bongkahan salju itu, dalam kerkahan suhu minus puluhan derajat jadi cerita yang sangat menarik.
Pagi yang dingin, basah, dan mendung di Kriens, sebuah desa kecil Swiss Tengah. “Cuaca begini kok mau membangun iglo,” kata Peter, tetangga sebelah.
Memang bukan cuaca yang menenteramkan hati untuk membangun rumah Eskimo, sekaligus menginap semalam di dalamnya. “Tapi sudah direncanakan dua tahunan, tak mungkin kami tunda lagi,” kataku.
Dua rekan GRIYA, Rene, warga Swiss, dan Jens, paspor Jerman, juga masih tertawa-tawa ketika kami menyusuri jalan aspal bercampur salju menuju Adelboden, dataran tinggi Bern. Keceriaan tiga laki-laki berbeda bangsa ini juga tak berkurang ketika menginjakkan kaki di desa yang berketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut itu meskipun cuaca semakin tak bersahabat.
Saya, satu satunya yang berkulit cokelat, langsung dipanggil Tenzing, yakni suku Sherpa yang membantu Edmund HIllary menapak puncak Everest. “Barangkali, saya memang orang Indonesia pertama yang membangun iglo,” kataku.
Namun, membangun iglo, juga menginap di dalamnya, bukan hal biasa. “Banyak yang tengah malam keluar dari iglo dan masuk garasi rumah terdekat,” tutur Rolf, pemandu kami.
Menemukan garasi di kawasan itu, bukan hal mudah. Selain menempuh badai salju yang hanya bisa melihat 50 meter ke depan. Jika salah jalan, bisa terperosok salju, ambles terbenam sampai ke perut. Tidak mengherankan, kami bertiga sangat hati-hati menyiapkan perlengkapan. Jaket, celana, sarung tangan, dan penutup kepala, kami masing- masing menyiapkan dua buah.
“Satu basah, bisa pakai yang lain,” kata Rene
Sleeping bag, apa boleh buat, mesti rangkap tiga. “Saya dulu semalam kedinginan dan tak bisa tidur karena salah kostum,” imbuh Rene.
Selain Rene, tak ada yang memiliki pengalaman membangun dan menginap di dalam iglo. Saya dan Jens seperti James Holman, the blind traveller, yang menjelajah Afrika seratus tahun silam dengan mata buta dan tak tahu bahasa setempat.
Meski sudah berpengalaman berhadapan dengan salju, tetap saja tidur semalam dalam cuaca ekstrem memerlukan keberanian khusus ala Holman. Seperti Peter, tetangga sebelah, beberapa kenalan kami juga geleng kepala mendengar rencana ini.
“Jangan khawatir, ujian sebenarnya belum dimulai,” kata Rolf, ketika kami mulai menggergaji salju untuk dinding iglo.
Membangun iglo memang tak perlu dicekam khawatir berlebihan. Ketika kami mulai menggergaji bongkahan salju, sekaligus menatanya dalam bentuk kubah masjid itu, dingin tidak begitu menyengat.
“Kalian akan berkeringat, jadi tak terlalu dingin,” imbuh Rolf.
Tak salah, butir keringat itu menghangati tubuh kami, kecuali muka yang harus berhadapan langsung dengan cuaca ekstrem itu. Sarung tangan pertama, dalam dua jam, ternyata tembus, basah hingga ke jemari sehingga harus diganti sarung tangan cadangan. Dalam hitungan menit berikutnya, saya temukan sarung tangan basah itu menjadi keras, dingin, namun beku. Saya agak tercekat, bagaimana nantinya jika kami tidur di dalamnya dalam suhu minus dan tidak bergerak selama delapan jam.
Membangun iglo memerlukan otot kuat. Bongkahan es yang sudah digergaji itu, selain dingin, juga berat. Satu bongkah salju untuk dinding iglo, rata-rata lima kiloan. Dalam cuaca yang cukup ekstrem, kami ngos-ngosan mengangkati bongkahan es itu, sekaligus menatanya dalam bentuk melingkar.
Apalagi ketika kubah iglo sudah mulai meninggi, saya sering terpelanting karena kondisi salju yang licin dan terlalu empuk untuk diinjak. Pada tahap ini, tak ada lagi yang bercanda. Kami diburu waktu, bangunan es ini harus bisa ditiduri dalam hitungan empat jam.
Cuaca akan makin buruk dan gelap datang. Wajah lelah mulai tampak dari kami bertiga, namun masih diperlukan puluhan lagi bongkahan es yang harus dikeruk, digergaji, dan ditata sebagai penutup atap.
“Inilah bagian paling sulit, harus benar-benar ukuran bongkahan salju yang pas,” kata Rene, sang “arsitek”.
Saat atap iglo selesai, saya bayangkan bisa sedikit istirahat. Namun, Rolf, pemandu kami, meminta untuk meneruskan bagian pintu. “Dan, harus dibuat berkelok kelok seperti labirin agar hawa dingin tak masuk ke dalam nanti malam,” perintahnya.
Tak hanya berkelok-kelok, juga naik turun, mirip lubang tikus. Urusan pintu itu, nyaris memangsa setengah jam, membuat kami seperti habis kerja rodi di zaman penjajahan. “Ada baiknya, kalau terlalu capek, mungkin kita bisa gampang tidur nantinya,” tutur Jens.
Menjelang senja, kami pun tersuruk-suruk menuju iglo yang pernah dibangun orang sebelumnya, mengganti pakaian yang basah, menukarnya dengan pakaian siap tempur untuk ujian sebenarnya, tidur atau setidaknya merebahkan diri di iglo hasil karya kami, selama kurang lebih delapan jam ke depan.
Tidak banyak lagi yang bicara, apalagi bercanda.Kami sudah terlalu letih dan mulai kedinginan. Apalagi butiran salju mulai masuk ke leher, merembes hingga dada. Merebahkan diri dengan pakaian hangat meskipun belum tentu juga akan nikmat, menjadi impian kami bertiga.
“Setidaknya bisa rebahanlah,” kataku.
Soal nantinya akan kedinginan, itu urusan kesekian. Kami sudah bekerja keras membangun iglo di antara cuaca yang tidak bersahabat. Termometer saat itu menunjukkan angka minus tiga derajat Celsius. “Kalau malam akan anjlok tentunya,” kata Jens.
Rolf malah mengingatkan, justru menjelang subuh akan makin tidak nyaman suhunya. Kami menyiapkan diri akan menghadapi suhu minus 20 derajat, dan kami jauh dari mana-mana, kecuali sebuah garasi rumah penduduk setempat jika ada yang tak tahan.
Ujian kehidupan itu tiba ketika jarum jam menunjuk angka setengah sepuluh malam. Kami bertiga sibuk dengan perlengkapannya masing-masing. Saya lihat dua rekan saya, Rene dan Jens, mengeluarkan kasur khusus, yang cukup ditekan dengan jari, bisa berubah menjadi alas tidur nan empuk dan hangat. Jens bahkan terlihat mengeluarkan bantal dari ranselnya. Saya sendiri hanya memiliki sleeping bag tentara Swiss, yang rangkap tiga.
“Ditambah sleeping bag satu lagi, mudah-mudahan cukup untuk delapan jam,” desisku.
Perlahan saya membaca bismillah, ketika sudah siap merebahkan diri di dalam iglo. Dua rekan yang lain pun demikian, setelah mengucapkan selamat malam, saya tidak banyak lagi melihat kegiatannya. Saya memilih berada di tengah karena kehangatan dua rekan ini akan membantu mengurangi dinginnya malam ketimbang harus berdampingan langsung dengan dinding es itu.
Lima belas menit pertama menjadi waktu yang menegangkan. Apakah tahan dengan dinginnya malam? Apakah saya, orang dari kawasan tropika ini akan memilih tersuruk-suruk menuju garasi rumah penduduk setempat? Setengah jam berlalu, belum terasa gigitan suhu minus dalam iglo ke tubuh ini, kecuali bagian muka. Malah hawa segar terasa masuk ke hidung.
Saya berharap akan segera bisa jatuh tertidur. Beberapa kali terdengar dua rekan saya bergerak perlahan. Mungkin sudah pulas, atau seperti saya, masih menunggu kapan serangan dingin fajar itu tiba.
Pada saatnya kelopak mata ini ingin menutup, terdengar dengkur lirih, yang kemudian makin keras dari samping kiri. Rupanya Jens sudah terlelap dengan nikmatnya, sementara saya harus “menikmati” dengkurnya. Namun, tetap bersyukur, karena sejak dua jam berlalu, tubuh ini masih hangat, layaknya tidur di rumah biasa.
Kekhawatiran bahwa saya akan jadi pecundang yang terbirit-birit lari ke garasi penduduk setempat, tidak terjadi. Tidak tahu kapan mata ini tertutup, tapi pada jam selanjutnya, saya juga mendengar Rene mulai mendengkur meskipun lebih halus ketimbang Jens.
Ketika mata ini terbuka, saya melihat Jens sudah tak ada.Apakah dia yang terbirit-birit dan tampil sebagai pecundang? Dalam hitungan menit, terlihat bayangan hitam menutup lorong pintu iglo. Seperti tikus, Jens merangkak ke dalam rumah eskimo ini.
“Sudah jam setengah delapan,” katanya.
Rene pun menggeliat, begitu juga saya. Kami bertiga saling berpandangan, lalu tersenyum perlahan. “Kita masih hidup,” kata Rene.
Saya mengaku kurang tidur, begitu juga dua rekan yang lain. “Aku tak bisa tidur karena kalian ngorok,” gerutuku. Jens dan Rene pun terkejut. “Bukankah kamu yang mendengkur,” kata Jens. Agaknya, kami bertiga tidur mendengkur, hanya saja waktunya bergantian.
Kami bersyukur, agaknya kami bertiga sempat tertidur meski tidak seberapa lama. Saya sendiri tidak kapok untuk mengulangi kegiatan sama.“Sampai jumpa nanti di Alaska,” kataku. Jens dan Rene hanya tersenyum. Dua manusia Eropa ini agaknya tidak akan rela lagi tidur bersama dalam satu ruangan. Dengkur kami bertiga akan memisahkan kegiatan serupa tahun depan.[i]
- Minggu, 20 Mei 2012 10:05
- Minggu, 20 Mei 2012 10:00
- Minggu, 20 Mei 2012 09:00
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi :
Telepon 021-574 7053 · Fax 021-824 33 979
Raymond di 0812-881-230-00 · raemond@mustangcorps.com · Blackberry: 3000AC19
Dina Momang di 0816-705-837 · dina@mustangcorps.com · Blackberry: 2532A7C8
Iklan Niaga
PRODUK TERBARU IKLAN BARIS
nama n kode baju :: rainbow knitdeskripsi ::keterangan :: harga belum termasuk ongkos kirim.. pengiriman lewat jasa jne.. pembayaran lewat t..
kode : kf 119harga belum termasuk ongkir:)order by sms only 081808259158 or add my bb pin27e364b9(serious order only).ld 114, pjg 66, bahan ..
yang minat ordersms ke : 0815-15483929lihat koleksi lain fb : koleksi dian busanajoin group pin bb : 27cb8dceym : hokkycollectionformat orde..
blezer bahan katun silk 1 warnakode : 725price:@65 ecerfor order:sms 0821.2010.9991 / bbm 284eb574welcome reseller
nama baju :: p ms 652minimal pembelian:: 1 pcsready warna :: abu, hijau, oren,ungu muda, ungu tuaketerangan :: harga belum termasuk ongkos k..
TOUR & TRAVEL GUIDE
Nah Kan !!! Kemenparekraf Juga Menyesali Lady Gaga Batal Konser.....
Griyawisata.Com -- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyampaikan penyesalannya jika konser Lady Gaga di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pada 3 Juni 2012 batal digelar. Alasannya konser bertajuk "The Born This Way Ball" ini diharapkan dapat menjadi ajang promosi Indonesia.
Asikkkk Enaknya Bisa Sepedaan di Gili Trawangan
Griyawisata.Com -- Berkeliling destinasi wisata dengan mobil atau motor adalah hal yang biasa dilakukan saat liburan. Libur panjang akhir pekan ini, tidak ada salahnya mencoba wisata olahraga yang dijamin sehat dan seru.Sepeda, papan surfing atau alat snorkeling bisa jadi teman sehat Anda selama liburan. Berikut 4 olahraga asyik yang bisa dilakukan saat liburan, disusun oleh Griyawisata.Com, Rabu (16/5/2012):


















