Hari ini: Senin, 16 Maret 2015 09:57
Barometer Otomotif Terkini

Identitas Budaya Indonesia Ada di Aroma Kopi?

Sabtu, 7 Juni 2014 13:00
Foto: Ilustrsasi (istimewa)

GriyaWisata.com- Kopi tidak hanya memberi pengalaman rasa tetapi juga identitas budaya bagi Indonesia. 

Begitulah pesan yang diangkat oleh Budi Kurniawan dalam film dokumenter berjudul "Biji Kopi Indonesia" atau "Aroma of Heaven".

Budi butuh waktu tiga tahun untuk melakukan riset mendalam tentang catatan alur sejarah kopi Indonesia.

"Sekitar 300 tahun, kopi Indonesia telah berkembang, tetapi rasanya belum ada perjalanan visual yang utuh tentang sejarah kopi Indonesia," kata Budi tentang alasannya membuat film tentang kopi Indonesia.

Film itu membawa penonton ke tempat kopi mulai dikembangkan, seperti Desa Doro di Pekalongan, Jawa Tengah.

Belanda pernah membangun pabrik pengolahan kopi di desa itu dan tahun 1878 membangun pipa penggelontor biji kopi yang tersembunyi di bawah tanah. Dari sana lah kopi Indonesia kemudian mengalir hingga ke Eropa.

Pada abad 18, kopi Jawa sangat populer. Nama Jawa kemudian melekat dengan kopi.

"Saking populernya, dulu secangkir kopi itu disebut a cup of Java," ujar guru besar Antropologi dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Pujo Semedi, di film itu.

Pujo mengatakan kepopuleran Kopi Jawa terus melesat hingga abad 19 akhir. "Dalam kurun dua abad, Jawa berkembang menjadi produsen kopi terbesar di dunia," ungkap Pujo.

Dari perkebunan kopi yang jauh dari hiruk pikuk kota, aroma kopi Indonesia sampai ke gerai-gerai kopi di seluruh dunia.

Namun popularitas kopi-kopi Indonesia tidak lantas berbanding lurus dengan kesejahteraan petani dan pekebun kopi Indonesia.

Petani Gayo di Aceh Tengah menanam sekitar 136 varietas kopi sejak tahun 1903 hingga menjadi areal terluas kopi Arabica di Asia. Namun nama besar kopi Gayo tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani di sana.

Film tersebut mengungkap panjangnya rantai bisnis kopi Gayo, yang juga disebut Siti Kahwa. Biji kopi yang sudah dipanen dibawa ke Medan, Sumatera Utara, lalu baru diproses di sana.

Dari Aceh, penonton dibawa ke timur Indonesia. Di Ruteng, petani menyanyikan lagu-lagu daerah seraya memetik biji kopi. Bukan biji kopi yang berwarna merah seperti umumnya, melainkan berwarna kuning.

Itu lah ciri khas kopi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Sudah sejak 100 tahun lalu kopi masuk ke sana dan kini Ruteng menjadi salah satu sentra pengembangan kopi. Hampir 90 persen warga di sana menaruh harapan hidup mereka pada kopi.

"Tetapi setelah kopi dibawa dari Ruteng, identitasnya terlupakan. Petani biasanya membawa kopi ke Surabaya untuk dijual tanpa membawa identitas kopi tersebut, dari mana ditanamnya," kata fasilitator pertanian Adam Musi.


Kopi dan Budaya

"Kopi itu beyond a cup of coffee. Berbicara kopi artinya bicara tradisi, kedekatan, egalitiarisme, sense of equality yang ada dalam secangkir kopi. Itu bisa dilihat di Indonesia," ungkap pendiri cikopo.com, Tony Wahid.

Seperti orang Gayo yang memiliki tradisi mengunyah biji kopi dengan sebutan qertoev kopi. Makan biji kopi menjadi tradisi asli di Gayo. Biasanya warga bersantai bersama sambil mengunyah biji kopi dan gula merah atau ditambah dengan air putih hangat.

Kopi memang tak lepas dari budaya. Perjalanan kopi di Indonesia pun mencakup tradisi, budaya, seni, iman, serta keyakinan adat daerah masing-masing.

Kini kopi bergerak menjadi bagian dari gaya hidup. Dan rasa dari suatu jenis kopi kemudian terbentuk berdasarkan persepsi sosial.

"Konsumen yang membentuk selera pasar. Kita tidak bisa menyalahkan selera kopi masyarakat yang dibentuk suatu perusahaan karena terkait dengan tren. Kopi selalu subjektif, tidak ada kopi yang paling enak. Kopi adalah pengalaman pribadi dan kita harus menghargai itu," jelas Pujo.

Film berdurasi 65 menit itu tidak hanya membawa penonton mengenal kopi Indonesia meskipun tema yang diangkat begitu banyak sehingga film ini terkesan anti-klimaks.

Setidaknya film ini bisa menjadi awal bagi para penikmat kopi untuk mulai menyelami identitas Indonesia sebagaimana harapan sang sutradara.

Seperti yang disampaikan Peneliti Kopi Indonesia, Surip Mawardi, kopi Indonesia memiliki keunggulan tersendiri.

"Kopi Sumatera, misalnya, itu berbeda dengan Kopi Brasil. Di Brasil, panen kopi itu pakai mesin sehingga tidak selektif, begitu juga dengan cara pemrosesannya," terang Surip dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.

"Selama hidup orang sayang sekali kalau belum menikmati kopi yang paling enak, yang disukai orang luar. Dan saya cuma mau ingatkan agar kita jangan melewati satu yang terbaik di dunia, kopi Indonesia," tutur Tony.[ant]

Baca juga:
Barometer Otomotif Terkini
Rating artikel: Belum ada rating
Rating
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full


Redaksi: [email protected]
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi :
Telepon 021-574 7057 · Fax 021-824 33 979
Raymond di 0812-881-230-00 · [email protected] · Blackberry: 7588039D
Barometer Properti Terkini

Follow Us!

Iklan Niaga

Tempat Ini Sangat Populer Dan Sangat Banyak Dikunjungi Wisatawan Lokal Dan Manca Negara, Sangat Baik Untuk Dikunjungi Oleh Keluarga Anda
Dapatkan Promo Holiday Dan Diskon Voucher Hotel
Solusi Promosi Produk-produk Perusahaan Dan Merek Anda, Dan Dapatkan Target Terbaik. Hub. 0215736969
Dapatkan Tiket-tiket Promo Liburan Keluarga Anda, Perjalanan Dinas, Online Domestik Dan Internasional, Resv: 0215736969

TOUR & TRAVEL GUIDE

SIA Gabungkan "Airport Tax" pada Harga Tiket untuk Penumpang Indo
(GriyaWisata.com) Pesawat Airbus A380 Singapore Airlines

Manfaat Gadget Saat Traveling Bukan Cuma untuk Selfie
(GriyaWisata.coim) Hasil editan foto boleh saja asal tidak mendramatisir.