Griyawisata.Com, Upacara ritual masyarakat Bali yang digelar secara lengkap bisa-bisa membutuhkan sampai 300 jenis tanaman untuk sajen pada upacara ritual? Jumlahnya luar biasa banyak. Dalam upacara lengkap pada Hari Raya, idealnya harus tersedia ratusan jenis dedaunan, bunga-bungaan, biji-bijian dan kayu.
Ini digelar 3 hari menjelang 2010 International Meeting of The Association of Tropical and Conference (ATBC) yang dihadiri 900 peserta dari 60 negara di Sanur, Bali, 19-23 Juli.
Untuk sajen sederhana yang biasa digunakan di masing-masing ruangan rumah, atau kantor, dibutuhkan minimum lima jenis tanaman. Sajen paling sederhana saja antara lain daun janur, daun pisang, daun pandan, bunga bougelvil, dan bunga aster.
"Tidak heran, sekarang daun janur tidak bisa dipenuhi dari pulau Bali, tetapi harus diimpor dari Pulau Jawa atau Lombok. Saban hari ada bertruk-truk daun janur atau daun pandan diimpor,
Kalaupun ada pohon nira atau kelapa di Bali, umumnya daun mudanya selalu dipotong. "Coba perhatikan, banyak pohon kelapa yang daunnya tinggal setengah,
pengurus satu Pura di Denpasar mengenai berapa hari yang dibutuhkan mengumpulkan semua rupa-rupa tanaman untuk upacara hari raya. Ternyata perlu tujuh hari. Dan di luar pengetahuan publik, para peneliti Kebun Raya Bali mengembangbiakkan jenis-jenis tanaman yang lazim digunakan untuk sajen.
Selain kekurangan dedaunan untuk sajen yang setiap hari digunakan masyarakat tradisional Bali, yang hidup dengan rutinitas ritual --sampai-sampai menghabiskan 30 persen dari penghasilan untuk ritual, ada juga spesies yang sudah punah di Bali karena tingginya permintaan pasar.
"Contoh tanaman paku pohon, warga Bali menyebut Paku Kijang. Di Bali sudah habis, karena banyak digunakan untuk pohon hias," ujarnya. untuk melestarikan paku kijang, Bayu dan kawan-kawan berburu spesies sejenis sampai ke Jambi di Pulau Sumatera. Paku kijang kini sudah dibudidayakan dan jumlahnya mencapai 150-an batang.[kjn*gw]
| < Prev | Next > |
|---|


