Lokasi objek wisata terlihat semrawut dan ditumbuhi semak belukar, bahkan banyak terlihat kotoran kerbau di sekitarnya. Sementara bangunan tambahan yang dibangun Pemkab Madina tahun 2007 terlihat kusam dan mulai rapuh dan mulai hancur akibat tidak di pedulikan lagi.
Kurangnya perawatan lokasi makin terlihat dari segi pengabadian pelaminan, tempat memasak gulai dan lainnya makin tidak jelas. Sementara semburan air panas yang biasanya digunakan tempat merebus telur, debit air maupun panasnya berkurang karena tidak ada perhatian pemerintah.
Warga Desa Logat, Rifai’i yang bertani di sekitar objek wisata Sampuraga mengatakan, objek wisata dengan latar belakang anak durhaka pada orangtua itu sejak 3 tahun lalu kesannya dibiarkan dan kurangnya perhatrian lokasi peninggalan kisahj anak durhaka.
“Tahun 1980 sampai 2.000 an, objek wisata Sampuraga masih banyak dikunjungi masyarakat, utamanya di hari libur, dan hari besar keagamaan. Pengunjung yang datang tidak hanya dari Madina, tapi juga dari luar daerah. Bahkan wisatawan asing pernah mengunjungi tempat itu,” ujarnya, tadi malam.
Padahal, objek wisata di Madina memiliki peluang besar dan menjanjikan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) bahkan termaksud tempat yang istimewah dari kota- kota lain.
Keterangan lain dihimpun dari berbagai masyarakat Desa Sirambas, kurangnya pengelolaan objek wisata Sampuraga ada juga kaitannya dengan status tanah. Sehingga Pemkab Madina tidak bisa mengeelolanya dengan maksimal. Padahal, lokasi objek wisata itu sekitar 25 kilometer dari Panyabungan.[bs/rs]
| Next > |
|---|

