Griyawisata.com, Dalam edisi 1 April 2011, Time menurunkan artikel berjudul, 'Holidays in Hell: Bali’s Ongoing Woes' dengan penulis Andrew Marshall. Artikel ini menyoroti pariwisata Bali yang tercoreng dengan masalah sampah dan kemacetan. Dalam artikel tersebut, Andrew menggambarkan bagaimana pulau Bali yang indah dan menjadi tujuan wisata oleh wisatawan dari berbagai negara, beranjak menuju kepunahan dan terbelit dengan sejumlah masalah, mulai dari sampah, keamanan, hingga kekeringan yang mengancam di pulau yang termasuk dalam daftar tujuan setiap agen travel di dunia tersebut.
Most of Bali's woes stem from a problem that rival resorts would love to have: too many tourists. In 2001, the island welcomed about 1.3 million foreign visitors. Ten years later — and despite bombings by Islamic extremists in 2002 and 2005 that killed 222 people, mostly Australian tourists — the island expects almost twice that number.And there are millions of Indonesian visitors too.
"Sebagian besar kesuraman Bali berasal dari masalah persaingan resort yang akan senang untuk memiliki: terlalu banyak wisatawan. Pada tahun 2001, pulai tersebut menyambut 1,3 pengunjung asing. Sepuluh tahun kemudian - dan meskipun pemboman oleh ekstrimis Islam di 2002 dan 2005 yang menewaskan 222 orang, kebanyakan turis Australia - pulau mengharapkan hampir dua kali angka itu. Dan ada jutaan pengunjung Indonesia juga," tulis Marshall.
Ia juga menyoroti bagaimana upaya sang Gubernur, I Made Mangku Pastika yang populer di Bali karena sukses membongkar aksi pemboman di Bali, tidak lagi didengarkan saat menyerukan moratorium pembangunan di beberapa titik pulau tersebut. "Bahkan sebagian menuduh Pastika telah menghalangi pembangunan Bali," tulis Marshall atas wawancaranya terhadap seorang pengusaha di Bali.
Instropeksi
Gubernur Bali, Made Mangku Pastika dalam wawancara hari ini, Rabu (06/04) mengakui bahwa dirinya gagal mencitrakan Bali di mata internasional karena pemberitaan majalah Times yang menurunkan berita berlibur di Bali bagaikan di neraka lantaran sampah membludak dan kemacetan yang kredit.
"Yang menilai kita itu orang lain, bukan kita sendiri. Jelas ada kegagalan yang dilakukan Pemprov Bali dalam mencitrakan pariwisata dan sarana yang nyaman di Pulau Dewata," katanya di Denpasar, Rabu (06/04).
Kendati mengakui jika Bali kotor dan macet, Mangku Pastika mengemukakan, tidak tinggal diam. Tetapi, pihaknya kini tengah gencar memikirkan pengolahan sampah yang semakin menumpuk saja, termasuk menyiapkan pembentukan Peraturan Daerah (Perda) tentang Penanganan Sampah. "Kita buatkan payung hukumnya untuk memecahkan persoalan sampah di Bali. Salah satunya dengan membuat Perda Penanganan Sampah," ucapnya.
Ia juga mengaku telah menginstruksikan Dinas Pariwisata Bali agar segera berkoordinasi dengan Bali Tourism Board (BTB) untuk mencarikan solusi bagi pariwisata Bali untuk jangka pendek, menengah dan panjang. "Kita juga harus mengubah mindset masyarakat terhadap perilaku buruk membuang sampah sembarangan," katanya.
Tekait kemacetan, kata dia, masih sedang mencarikan solusinya seperti yang selama ini dibahas, yaitu pembangunan jalan baru di Bali. "Buat jalan baru dong. Ini kan juga fakta kalau Bali memang macet. Kita segera carikan solusinya," katanya.
Kendati begitu, ia mengaku, jika pemberitaan tersebut pasti berdampak terhadap industri pariwisata Bali. Untuk itu, ia meminta kepada semua pihak agar berupaya sekuat tenaga untuk mengembalikan citra Bali sebagai pulau surga.
"Kalau mau dikatakan Bali sebagai pulau surga, ya harus seperti surga. Itu tugas kita bersama," katanya menambahkan.[tn]
| < Prev | Next > |
|---|


