GriyaWisata.Com-Upacara potong gigi, ada juga yang menyebutnya dengan istilah metatah atau mepandes adalah salah satu ritual masyakat Bali, berhubungan dengan adat dan spiritual. Karena pada dasarnya 2 hal tersebut, yaitu adat dan spiritual merupakan elemen terpenting bagi kehidupan masyarakat Bali.
Terutama bagi kehidupan sehari-hari. Namanya juga upacara potong gigi, jadi tentunya ada tindakan untuk memotong gigi. Nah seperti apa dan bagaimana, nanti aku ceritakan ya tentang apa yang aku alami. Aku sendiri, meski sudah mendapat informasi dari berbagai macam sumber tentang upacara potong gigi, sebenarnya aku belum pernah menyaksikan secara langsung upacara potong gigi selain upacaraku sendiri.
Kalau upacara adat otonan, odalan, memukur, ngaben, pernikahan, sudah aku lihat dan hadiri semenjak tinggal di Bali. Upacara potong gigi juga menjadi salah satu upacara besar karena ini adalah wujud tanggung jawab orang tua pada anaknya, selain menikahkan. Upacara ini diadakan biasanya 1 kali seumur hidup, atau boleh juga lebih. Berhuhung ini ritual wajib, jadi semua orang Hindu Bali pasti mengalami upacara ini.
Boleh dilakukan pada masa si anak mencapai akil balig, atau masa-masa setelah itu. Dan kalau ada seseorang yang meninggal sebelum sempat melaksanakan upacara potong gigi maka upacara itu tetap diadakan untuk dirinya setelah meninggal, sebelum di aben tentunya. Kalau teknis penyelenggaraan upacara sendiri berbeda-beda bagi tiap daerah atau desa namun pada intinya tetap sama, yaitu simbol dari pengendalian terhadap Sat Ripu.
Berhubung upacara potong gigi termasuk acara ber-budget besar, banyak keluarga atau orang tua mengadakan upacara itu dibarengkan dengan acara lainnya, umumnya pernikahan. Atau ada juga yang menyelenggarakan satu upacara untuk sekaligus beberapa orang. Ini dilakukan untuk meminimalisir pengeluaran maupun berbagai alasan lainnya yang mengandung nilai kepraktisan, dan ada pula alasan-alasan lainnya. Seperti tadi disebutkan, ini adalah upacara besar, jadi tentunya melibatkan banyak orang, tidak ubahnya dengan pernikahan. Orang yang melaksanakan upacara bisanya juga mengundang seluruh kerabat maupun kenalan untuk hadir. Jadi undangan untuk potong gigi sangat umum di Bali, selayaknya kita menerima undangan pernikahan teman atau kenalan.
Tujuan upacara potong gigi dapat disimak lebih lanjut dari lontarkalapati dimana disebutkan bahwa gigi yang digosok atau diratakan dari gerigi adalah enam buah yaitu dua taringdan empat gigi seri di atas.Pemotongan enam gigi itu melambangkan symbol pengendalian terhadap sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia).Meliputi kama (hawa nafsu),Loba (rakus),Krodha (marah),mada (mabuk),moha (bingung),dan Matsarya (iri hati).Sad Ripu yang tidak terkendalikan ini akan membahayakan kehidupan manusia,maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati anak-anaknya serta memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh sad ripu.
Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati,kala Tattwa,dan Semaradhana ini adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya dapat yang suci dapat mencapai surge loka bersama roh suci para leluhur, bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi).Dalam pergaulan muda-mudi pun diatur agar tidak melewati batas kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar Semaradhana.
Upacara potong gigi biasanya disatukan dengan upacara Ngeraja Sewala atau disebutkan pula sebagai upacara “menek kelih”, yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak dewasa,meninggalkan masa anak-anak menuju ke masa dewasa.[kll]
| < Prev | Next > |
|---|

