Perjalanan ini sebelumnya sudah direncanakan secara matang jauh-jauh hari mengingat perjalanan ke TNK butuh biaya cukup besar. Beruntung, saat itu saya tak sengaja melihat paket hemat menuju kepulauan komodo namun dengan biaya sangat ramah di media sosial Instagram.
Gayung bersambut saya pun mendaftar menjadi peserta hingga akhirnya kuota penuh dibatasi menjadi 20 orang. Jika melihat konsep Live On Board, perjalanan tidak menguras kantong maklum dengan gaya traveler cara ini ampuh berbeda dengan penerbangan udara menuju Bandara Labuan Bajo pintu utama terdekat ke TNK namun membutuhkan biaya besar menguras kantong.
Meeting point pertama bersama peserta lain yaitu Bandara Internasional Lombok Praya, setelah semua lengkap rombongan menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur Nusa Tenggara Barat (NTB) di tempat ini kapal motor berukuran sekitar 9 x 3 meter membawa kami berlayar selama 4 hari 4 malam bersiap menjelajah perairan Flores seperti Gili Lawa, Pulau Padar, hingga Pulau Rinca.
Pada hari ketiga, akhirnya kami tiba di Gili Lawa. Daeng si kapten kapal kami menjelaskan bahwa Gili Lawa ini adalah pintu gerbang menuju TNK. Gili Lawa sendiri terbagi menjadi dua, yaitu Gili Lawa Laut dan Gili Lawa Darat. Lokasi kedua gili ini bersebrangan. Gili Lawa Darat berada di antara Gili Lawa Laut dan Pulau Komodo.
Seperti layaknya di Negara Selandia Baru lewat perbukitan hijau bersih dan lautan biru merona, Gili Lawa bisa diadu, Indonesia di bagian timur seperti Atlantis yang hilang. Bentangan lanskap menakjubkan, pemandangan underwaternya menembus cakrawala di kedalaman. Namun terbatasnya waktu, kami tidak sempat melihat view underwater Gili Lawa. Begitu kapal berlabuh di tepi pantai Gili Lawa Darat, kami berjalan menyusuri bibir pantai sejauh 50 meter, selanjutnya menuju jalur trekking.
Terdapat papan nama jalur menuju rute puncak, cukup menanjak dan terjal, tanah kering licin berpasir debu. Atap Gili Lawa berada diketinggian sekitar 400 meter. Terik panas matahari cukup menyengat membuat ketahanan fisik melemah, namun membawa air 1 liter keharusan menghapus dahaga. Beberapa rombongan ada yang memilih di bawah puncak karena jika dilihat kontur pemandangan puncak sama saja, tergantung selera saat itu.
Waktu masih menunjukkan pukul 11.00 Wita, namun matahari bersinar sempurna. Pemandangan indah sepanjang jalur trekking ketika melihat ke belakang tak pernah surut hati terus berdecak kagum belum pernah saya melihat bentangan air biru mengkilat merona nyaris bening tanpa kotoran.
Ditambah dengan kemiringan yang cukup curam. Akhirnya setelah 40 menit, saya tiba di salah satu puncak Gili Lawa. Banyak terdapat spot menarik, jika naik ke atas beberapa meter terdapat puncak lagi. Pemandangan dari sini mengagumkam, menurut saya di spot puncak kedua ini suasana panorama lautan Gili Lawa terlihat lengkap, berbeda kala berada di puncak utamanya tertutup punggungan bukit.
Gradasi birunya laut bertemu dengan awan putih. Mengharu biru! Ditambah lekukan bukit-bukit yang mulai menguning karena musim kemarau. Setelah puas berfoto di atas, kami secepatnya kembali ke kapal.
Ketika menuruni lereng dan sampai di pantai, hal pertama yang terlintas adalah bermain air! Ya, cuaca saat itu sangat terik. Beberapa menit bermain air di pantai, cukup mendinginkan kaki setelah trekking. Pemanasan di siang hari yang cukup berkesan untuk memulai petualangan di kawasan TNK. (kaltimpost)