Hari ini: Kamis, 24 Juli 2014 10:14
Barometer Otomotif Terkini

Kerajaan Kutai VS Bahasa Kutai

Jumat, 12 Oktober 2012 16:54
(istimewa)

GriyaWisata.com - Insfirasi sejarah pasti telah tertuju pada kerajaan Kutai, pasalnya kerajaan ini telah banyak dikenal, namun cukup disayangkan bahasanya kurang dikenal. Mungkin dalam hal ini bahasa yang dipergunakan cukup sulit atau cukup tidak dimengerti oleh berbagai lapisan masyarakat.

 

Dalam sejarah dijelaskan, Kerajaan Kutai berdiri pada abad 4 Masehi dan merupakan kerajaan tertua di Indonesia yang bercorak Hindu. Corak ini dibuktikan dengan adanya sejumlah peninggalan di antaranya berupa prasasti Yupa (tiang batu).
 
Prasasti yang menggunakan huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta tersebut didirikan oleh Raja Mulawarman. Bukti sejarah tentang kerajaan Kutai adalah ditemukannya tujuh Yupa di Muara Kaman, Hulu Sungai Mahakam atau di Hulu Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim).
 
Dari salah satu Yupa tersebut tertulis, bahwa Raja Mulawarman dikenal karena kedermawanannya, yakni menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana dari agama Hindu. 
 
Lantas mengapa Kerajaan Kutai yang sangat popular itu tidak dibarengi dengan populernya Bahasa Kutai yang saat ini masih digunakan warga Kutai sebagai bahasa ibu?
 
Jawabannya mungkin akan bermacam-macam, tergantung dari sudut pandang pembaca tulisan ini. Namun jawaban yang paling banyak mungkin adalah karena penduduk Kutai tidak sebanyak penduduk Suku Jawa, Suku Bugis, atau Suku Banjar.
 
Berdasarkan pantauan Antara, pengguna Bahasa Kutai dengan fasih ternyata bukan hanya suku asli Kutai dan Kutai keturunan, namun juga warga pendatang yang sudah bertahun-tahun berbaur dengan warga Kutai, baik yang tersebar di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur, maupun Kutai Barat.
 
Di Samarinda yang dulunya juga masuk wilayah Kutai, hingga kini masih ditemukan sejumlah kelompok yang sehar-harinya menggunakan Bahasa Kutai, namun bahasa ibu yang lebih condong terdengar di Samarinda adalah Bahasa Banjar, disusul Bahasa Jawa, kemudian Bahasa Bugis. 
 
Meskipun penduduk Kutai tidak sebanyak Jawa maupun Bugis, namun menurut sastrawan Kaltim Syafruddin Pernyata, Bahasa Kutai bisa dipopulerkan dengan beberapa cara, di antaranya adalah komitmen kepala darah, dan menjadikan muatan lokal (mulok) di SD wilayah Kutai.
 
Di Kutai Kartanegara, lanjutnya, sudah berkomitmen menjadikan Bahasa Kutai sebagai muatan lokal, sehingga kebijakan ini harus disambut baik sebagai bentuk tanggungjawab membina dan melestarikan budaya bangsa.
 
Bahasa Kutai adalah satu di antara bahasa daerah yang hidup dan masih digunakan oleh masyarakat Kutai. Sebagian besar penduduk Kabupaten Kutai (sekarang Kutai Kertenegara, Kutai Barat, Kutai Timur) menggunakan Bahasa Kutai sebagai alat berkomunikasi sehari-hari.
 
Bahasa Kutai terdiri atas beberapa dialek, namun sebagai pemersatunya, kemudian digunakan bahasa Kutai umum. (Bahrah 1992).
 
Semakin terbukanya daerah Kutai yang semula meliputi Samarinda, Balikpapan, Bontang, Kutai Barat dan Kutai Timur, mengkhawatirkan banyak pihak akan semakin sedikitnya penutur bahasa Kutai. 
 
Padahal Bahasa Kutai merupakan satu di antara bahasa daerah dan bagian dari kebudayaan bangsa, merupakan aset yang patut dikembangkan dan dilestarikan.
 
Menurutnya, Bahasa Kutai dan sejumlah bahasa daerah lain dalam kaitannya dengan bahasa Indonesia, memiliki keterkaitan yang tidak apat dipisahkan, seperti sebagai pendukung bahasa nasional, bahasa pengantar di sekolah dasar di daerah tertentu pada tingkat permulaan untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lainnya, dan sebagai alat pengembang sekaligus pendukung kebudayaan daerah.
 
Sedangkan ditinjau dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, maka Bahasa Kutai memiliki fungsi sebagai lambang kebanggaan daerah, lambang identitas daerah, dan sebagai alat penghubung dalam keluarga dan masyarakat.
 
Dia juga mengatakan bahwa perhatian dan penelitian terhadap Bahasa Kutai selama ini tidak banyak dilakukan. Bahasa Kutai telah diteliti oleh Hairul (1964), Abdul Rahim (1975), Suryadikara (1979, 1986), Hatuwe (1982), Kawi (1986), dan Syafruddin Pernyata (1989, 1989b, 1990, 1994).
 
Penelitian ini penting, terutama dalam rangka pengembangan dan pelestarian Bahasa Kutai sebagai bagian dari kebudayaan nasional.
 
Selanjutnya, kata dia, menjadikan Bahasa Kutai sebagai muatan lokal bukan saja dapat mengembangkan Bahasa Kutai, tetapi juga akan berkorelasi pada pengembangkan bahasa nasional sekaligus kebudayaan nasional.
 
Apalagi dalam pengembangan bahasa daerah dijamin undang-undang, yakni UUD 1945 Bab XIII pasal 32. Pada pasal 1 disebutkan negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
 
Kemudian dikuatkan dengan pasal 2 yang menyebutkan bahwa negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. 
 
Untuk mempercepat siswa SD menyerap Bahasa Kutai yang masuk mulok, maka sistem pembelajarannya setidaknya harus diarahkan pada 3 fungsi pokok, yaitu sebagai alat komunikasi, edukatif, dan kultural
Baca juga:
Barometer Otomotif Terkini
Rating artikel: icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full (1 rates)


Redaksi: [email protected]
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi :
Telepon 021-574 7057 · Fax 021-824 33 979
Raymond di 0812-881-230-00 · [email protected] · Blackberry: 7588039D
Barometer Properti Terkini

Follow Us!

Iklan Niaga

Dapatkan Kesempatan Paket Spesial Lebaran, Sewa Mobil Dengan Kendaraan Terbaik. Hubungi 0215747057
Diskon Voucher Hotel, Domestik Dan Internasional Dan Dapatkan Berbagai Benefit Dari Reservasi Anda. Hub: 0215747057
Solusi Promosi Produk-produk Perusahaan Anda, Dan Dapatkan Target Terbaik. Hub. 0215747057
Dapatkan Tiket-tiket Promo Liburan Keluarga Anda, Perjalanan Dinas, Online Domestik Dan Internasional, Resv: 0215747057
Nikmati Kesempatan Liburan Bersama Keluarga Idaman Anda, Paket Promo Asia. Hub: 0215747057

TOUR & TRAVEL GUIDE

Fakta Kenapa Ngemil Itu Sehat
GriyaWisata.com- Mengemil itu ternyata menyehatkan lho walaupun terkadang ngemil bisa membuat berat badan Anda bertambah. Mau tahu kenapa mengemil itu sehat untuk tubuh? Yuk, simak selengkapnya.  

Cara Jitu Agar Tangan Tetap Lembut & Halus
GriyaWisata.com- Tangan adalah bagian tubuh yang paling sering terekspos sinar matahari, debu, udara dingin dari ruangan ber-AC, air, dan juga bahan kimia dari sabun atau detergen. Hal ini membuat tangan lebih cepat kering dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya.