Repihan Kerajaan Sanggar
(GriyaWisata.com) Batu-batu ini membentuk garis lurus setelah dihubungkan dengan struktur batu di bagian lain perkampungan Boro. Warga meyakininya sebagai tembok istana Kerajaan Sanggar, salah satu kerajaan yang rusak parah akibat erupsi Tambora pada April 1815
Itu adalah lagu anak-anak dari Jawa, ketika saya kecil dulu. Sebuah lagu tradisional yang menggambarkan betapa populernya kuda-kuda asal Kore. Kore merupakan sebuah desa di pesisir utara Sumbawa, berada di pangkal Semenanjung Sanggar.
Desa ini memiliki pelabuhan nelayan yang ramai. Kore telah dikenal sebagai salah satu pemasok kuda dari Sumbawa. Di kawasan ini terhampar sabana yang menjadi arena kuda-kuda Kore. Namun, jumlah kuda asal Kore tidak sebanyak dulu lagi lantaran sabana tadi sebagian telah menjelma menjadi ladang-ladang jagung.
"Ladang jagung itu mulai ada sejak sekitar empat tahun lalu," ujar Jan, seorang warga Kore, yang rumahnya menjadi tempat kami bermalam. "Setiap panen bisa menghasilkan 70 juta rupiah."
Kore merupakan bagian dari Kerajaan Sanggar, salah satu kerajaan di kaki Tambora yang terdampak erupsi besar 1815. Kerajaan ini tampaknya kian meredup setelah terjadinya petaka tersebut.
Lahan pertanian yang rusak berat telah menyebabkan warga yang mengungsi urung untuk kembali ke Sanggar. Nama kerajaan ini terakhir disebut pada 1926, ketika Hindia Belanda membuat wilayah Kerajaan Sanggar menjadi bagian wilayah Kesultanan Bima.
"Kerajaan Sanggar hancur bukan karena letusan Tambora, melainkan pertikaian keluarga," ujar As'ad, salah seorang keturunan kerabat Kerajaan Sanggar. "Pusat Kerajaan Sanggar adalah di Boro, empat kilometer dari Kore."
Dia juga mengungkapkan bahwa tak ada lagi catatan silsilah raja, "hanya ada tiga raja yang diketahui sebagai raja Sanggar."
Pada 17 Februari sore, bersama As'ad kami menjelajahi repihan Kerajaan Sanggar. Kami mengunjungi makam leluhurnya yang terserak di kebun jagung. Nisan-nisan kuno bertatahkan ornamen rumit itu barangkali memang bagian dari simbol status orang yang dimakamkan.
Menurutnya beberapa makam kuno telah tergusur pembangunan untuk lahan sekolah. Kami memasuki sebuah permukiman dengan blok-blok deretan rumah warga yang dihubungkan dengan jalan-jalan yang saling tegak lurus. Tidak ada rumah semasa yang tersisa.
"Inilah bekas Kerajaan Sanggar," ujar As'ad ketika melintasi sebuah jalan kampung. "Kita sekarang berada di dalamnya."
Permukiman lama sudah tak tersisa lagi. Namun, kami masih menjumpai struktur pagar kerajaan yang disusun dari batu. "Kita masih bisa melihat batu-batu. Luasnya 300 meter kali 270 meter," ujar As'ad sambil menunjuk batu-batu yang membentuk garis lurus.
Dia mengenang sambil berucap, "Di sinilah pusat kebudayaan Sanggar
(travel.kompas.com)
- Minggu, 11 Oktober 2015 11:45
- Minggu, 11 Oktober 2015 10:35
- Minggu, 11 Oktober 2015 09:01
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi :
Telepon 021-574 7057 · Fax 021-824 33 979
Raymond di 0812-881-230-00 · [email protected] · Blackberry: 7588039D
Iklan Niaga
TOUR & TRAVEL GUIDE
Tour de Singkarak 2015
Tour de Singkarak 2015 yang dibuka di Pantai Carocok, Kabupaten Pesisir Selatan pada Jumat (2/10) dan akan berlangsung hingga 11/10 (hari ini). Meskipun sebuah event olahraga tetapi juga penuh dengan musik dan tarian Minang, letupan kembang api dan pesona destinasi wisata setiap daerah.
Panduan Memilih Liburan untuk Anak-Anak
www.griyawisata.com - Sekarang ini beberapa orangtua meletakkan perjalanan tahunan keluarga mereka kepada ahlinya, untuk menghemat waktu dan mengekspos anak-anak mereka dengan pengalaman yang lebih beragam. Tapi orangtua tidak sepenuhnya bebas. Berikut adalah panduan memilih liburan untuk anak-anak:Keluarga dengan anak-anak remaja akan senang dengan perjalanan apapun asal ada aspek yang menarik bagi semua anggota keluarga. Ketika seorang pelancong bernama Penny Putnam mencari perjalanan yang akan melibatkan dirinya dan suaminya yang sama-sama penggemar sejarah, dan anak laki-lakinya yang berusia 13 tahun, ia menemukan tur di Turki dari sebuah biro perjalanan wisata yang mengkombinasikan snorkeling di pesisir reruntuhan dan mengunjungi bangunan arsitektur.




