Griyawisata.com, Di tempat inilah Dang Hyang Dwijendra, pendeta panyebar agama hindu dari jawa timur dikisahkan pernah singgah. Situs suci hindu sekilas mengingatkan kita pada Tanah Lot di Bali, yang letaknya di bibir pantai dengan posisi menjorok ke laut. Jika memasuki pura, pengunjung diwajibkan memakai pita kuning yang dilingkarkan di pinggang, untuk tarif sewanya pun diberikan secara sukarela.
Dua pura yang menghiasi karang hitam ini ada dua. Dengan berjalan menuruni anak tangga, anda akan melihat pura pertama yang bersemayam di bawah naungan pepohonan yang rindang. Sedangakan pura ke dua berdiri diatas karang yang menjulang setinggi kurang lebih empat meter serta mempunyai lubang di tubuhnya, lubang ini yang jadi inspirasi lahirnya nama pura batu bolong. Pura utama posisinya agak tinggi, jadi jalan anda harus hati-hati agar tidak terciprat ombak yang menghantam karang.
Walaupun senantiasa digaduhkan oleh suara hempasan ombak, Pura batu bolong dipercaya dapat memancarkan getaran rohani yang damai dan khusuk di batin para peziarah. Pada saat lebaran tiba bagi umat muslim Lombok, bersama-sama membanjiri pantai di depan pura untuk makan opor ayam, ayam Taliwang, ketupat, dan serundeng.[tn]
| Next > |
|---|








