GriyaWisata.Com-Maluku Utara pada awalnya digambarkan sebagai gugusan pulau-pulau mini yang kemudian diberi nama Maluku atau pulau kembar, Ternate dan Tidore. Kedua pulau itu mulai ramai dibicarakan sejak abad XV, seiring dengan masuk dan berkembangnya Islam di Kepulauan Maluku. Maluku Utara pada awalnya digambarkan sebagai gugusan pulau-pulau mini yang kemudian diberi nama Maluku atau pulau kembar, Ternate dan Tidore. Kedua pulau itu mulai ramai dibicarakan sejak abad XV, seiring dengan masuk dan berkembangnya Islam di Kepulauan Maluku.
Yang awalnya hanya berdagang, kemudian muncul keinginan kuat dari para utusan dagang negara-negara asing untuk menguasai Tidore dan Ternate. Bagi mereka, menguasai Maluku (Tidore dan Ternate) sama dengan menguasai produksi rempah-rempah dunia. Karena itulah kemudian terjadi persaingan sangat ketat dari berbagai kekuasaan asing untuk menguasai atau minimal memperebutkan pengaruh di negeri itu.
Negeri ini juga dikenal dengan sebutan Moluku Kie Raha (empat gugusan pulau/gunung), sebutan untuk empat Kesultanan di wilayah itu: Tidore, Bacan, Jailolo, dan Ternate. Secara harafiah, Moluku Kie Raha berarti gugusan empat pulau bergunung. Istilah itu seperti dikutip dari buku Profil Maluku Utara didasarkan pada eksistensi empat kesultanan yang berpusat di empat kaki gunung yang hingga kini masih eksis.
Empat kesultanan itu bersaudara kandung dari hasil perkawinan Djafar Sadik dan Boki Nursaefah. Di dalam menjalankan pemerintahan, masing-masing kesultanan dibantu beberapa Bobato (pembantu sultan) yang terbagi dua, Bobato Dunia dan Bobato Akhirat. Keempat kesultanan itu, mendominasi perjalanan sejarah Maluku, termasuk mampu membangun hubungan dengan berbagai kerajaan lain di Indonesia maupun Eropa, seperti Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Pada bulan Desember 1511, M de Albuquerque, wakil negara Portugis yang berkedudukan di Malaka untuk pertama kali mengirimkan ekspedisi tiga kapal menuju Maluku.
Pada tahun 1523, terjadi perlawanan pertama dari Sultan Ternate dan Tidore yang menentang monopoli perdagangan cengkeh. Sultan Tidore Al Mansor dan Permaisuri Sultan Ternate Nyai Cili Boki Raja memimpin langsung perlawanan habis-habisan terhadap kelicikan Portugis dengan kebijakan monopoli dagangnya itu. Perlawanan serupa juga dilakukan habis-habisan terhadap Spanyol, Inggris, dan Belanda, karena ternyata kehadiran bangsa-bangsa asing itu sama dengan misi yang dibawa Portugis. Mereka semua ingin menguasai dan memonopoli perdagangan di Maluku.
Pada tahun 1957 upaya pembentukan Maluku Utara sebagai provinsi sendiri sebetulnya sudah dimulai, seiring dengan upaya mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Indonesia dari genggaman Belanda. Soa Siu (Tidore) ditetapkan sebagai ibu kota sementara Provinsi Irian Barat, lewat Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 1956. Kemudian pada tahun 1963 perjuangan pembentukan Provinsi Maluku Utara kembali digaungkan oleh para pemimpin politik di wilayah itu, seperti PSII, Partindo, Nahdlatul Ulama, Partai Katolik, dan Parkindo. Pada tahun 1965 serta selama era Orde Baru perjuangan ini kembali kandas dan melemah.
Maluku Utara resmi menjadi provinsi otonom lewat terbitnya UU No 46/1999, tanggal 4 Oktober 1999. Provinsi ini terdiri atas tiga wilayah kabupaten dan kota, masing-masing Kabupaten Maluku Utara, Halmahera Tengah, dan Kota Ternate.[tn]
| Next > |
|---|

