GriyaWisata.Com - Perum Perhutani akan segera kembangkan wisata alam di sekitar Waduk Jatigede menjadi objek wisata alam berbasis lingkungan atau ekowisata.
Kawasan hutan sekitar Waduk Jatigede ini akan dikembangkan oleh Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sumedang menjadi objek wisata alam berbasis lingkungan atau ekowisata.
Namun, dalam pengelolaannya akan melibatkan langsung masyarakat setempat yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) binaan Perhutani.
Agus Mashudi, Administratur Perum Perhutani KPH Sumedang, saat meninjau potensi wisata di kawasan hutan Perhutani Blok Baros, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Cadasngampar di Desa Pakualam, Kecamatan Darmaraja, Sabtu (30/1/2016), mengatakan “Kami sengaja melibatkan masyarakat LMDH, supaya mereka tidak menjadi penonton dengan keberadaan Waduk Jatigede. Masyarakat harus menjadi pelaku dalam pemanfaatan potensi wisatanya”.
Kehadiran Agus dalam meninjau lokasi ini, turut hadir mendampingi, yaitu Asper BKPH Cadasngampar Yuniarso, Kaur Humas Nana Priatna, Ketua LMDH Pakualam Suryana dan Ketua LPMD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa) Desa Pakualam Amir Sunarya.
Agus berpendapat, kawasan hutan di sekitar Waduk Jatigede yang akan dikembangkan menjadi objek wisata, yakni kawasan wisata alam Puncakdamar di Blok Baros, Desa Pakualam, Kec. Darmaraja. Lokasi lainnya, kawasan hutan di Blok Tanjungduriat, Desa Pajagan, Kecamatan Cisitu. Luas dua kawasan hutan itu sekitar 35 hektare.
“Meski objek wisata alam di Puncakdamar ini pengembangannya masih tahap perencanaan, tapi sudah banyak pengunjung yang datang menikmati keindahan alam Waduk Jatigede,” tuturnya.
Dia mengatakan, beberapa jenis rekreasi yang akan dikembangkan di Puncakdamar dan Blok Tanjungduriat, di antaranya bumi perkemahan, outbond, jalur offroad dan kuliner berbagai menu masakan ikan. Dan masyarakat LMDH, bisa menjadi pemandu wisata dan menjual berbagai macam kuliner.
“Jadi masyarakat harus menjadi pelaku langsung dalam pemanfaatan potensi wisata di Waduk Jatigede ini. Untuk pengembangan wisatanya, perlu ada regulasi khusus. Salah satunya, memangkas pungutan liar (pungli) yang memberatkan para pengunjung,” tutur Agus.
Dia mengatakan, dengan pengembangan objek wisata alam di sekitar Waduk Jatigede, otomatis mengubah fungsi hutan. Dari asalnya hutan produksi, menjadi hutan lindung atau konservasi. Bahkan hutan konservasi bisa menunjang keberlangsungan dan pemeliharaan Waduk Jatigede. Jika tetap hutan produksi dengan aktivitas penebangan kayu, dikhawatirkan dampaknya akan menimbulkan erosi hingga bisa memicu terjadinya pendangkalan waduk.
Dia menegaskan, “Setelah jadi hutan lindung, dilarang keras menebang kayu. Untuk mewujudkan ekowisata, kami akan memperbanyak penanaman pohon pinus yang ramah lingkungan. Sebab, tidak ditebang kayunya, melainkan diambil getahnya. Terlebih aturannya, 500 meter dari bibir waduk ditetapkan menjadi zona hijau untuk daerah tangkapan air,” jelasnya.
Suryana, Ketua LMDH Pakualam mengatakan, masyarakat LMDH di kawasan hutan Blok Baros dan Cisema sekitar 100 orang, sangat mendukung pengembangan wisata alam di kawasan hutan Perhutani tersebut.
Perhutani bersama masyarakat akan bekerjasama memanfaatkan potensi wisata di sekitar Waduk Jatigede.
Saat itu, Kasmudi, Sekretaris LMDH Pakualam, turut mendampinginya, dan Suryana mengatakan, “Animo pengunjung sangat besar. Walaupun baru perencanaan, tapi pengunjungnya sudah banyak. Hari-hari biasa, pengunjung yang datang ke Puncakdamar ini 50 sampai 100 orang. Bahkan hari libur Sabtu-Minggu, lebih 100 orang. Jadi, wisata alam di sekitar Jatigede ini sangat menjanjikan sehingga harus segera dikembangkan,” tambahnya. Ray.