Negeri wisata sejuta pesona' adalah julukan bagi Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Kabupaten ini memiliki segudang potensi untuk mewujudkan slogan tersebut dan masih banyak pula tantangan yang harus dihadapi.
Hal itu diungkapkan oleh sejumlah duta besar dan perwakilan negara sahabat yang diundang oleh Special Envoy of Seychelles for ASEAN dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Selama dua hari, mereka diperlihatkan berbagai potensi di sisi barat Pulau Sumatera ini.
Duta besar dan perwakilan negara sahabat yang berpartisipasi dalam kegiatan ini berasal dari 24 negara, yaitu dari Afghanistan, Aljazair, Azerbaijan, Bangladesh, Bulgaria, Kroasia, Irak, Jordania, Kazakhstan, Laos, Libya, Myanmar, Pakistan, Palestina, Polandia, Arab Saudi, Sudan, Seychelles, Suriname, Turki, Uni Emirat Arab, Ukraina, Uzbekistan, dan Yaman.
Mendarat di Bandara Ferdinan Lumban Tobing, Pinangsori, para dubes kemudian menempuh perjalanan darat ke Kecamatan Barus. Dahulu, Barus merupakan kota pelabuhan yang ramai dan menjadi gerbang masuknya Islam ke Nusantara lewat Samudera Hindia.
Kini, sejarah Barus sebagai titik masuknya Islam bisa dilihat lewat nisan para syekh dan keluarganya yang ada di Makam Mahligai. Barus sekarang sedang dalam proses menjadi destinasi wisata religi dengan adanya rencana pemugaran makam.
Masih di Makam Mahligai, para duta besar juga diajak untuk menanam kapur barus yang juga dikenal sebagai champor. Berabad-abad yang lalu, kapur barus tersohor sebagai komoditas asli nusantara yang kemudian diperdagangkan di seluruh dunia. Sayangnya, kini kapur barus semakin langka di tanahnya sendiri yaitu Tapanuli Tengah.
Dari Barus, para duta besar menempuh jalan darat ke Pantai Bosur di Kecamatan Pandan. Lewat ramah tamah, para duta besar diperkenalkan dengan budaya Tapanuli Tengah. Mereka dihibur dengan lagu daerah dan dipakaikan ulos.
Bila di hari pertama para duta besar diperkenalkan dengan potensi pariwisata Tapteng, hari kedua giliran sektor perikanannya. Mereka berkunjung ke Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga.
Para duta besar mendapat penjelasan singkat tentang proses pengolahan tuna dan cakalang yang bisa mencapai 400 ton per hari hingga diekspor ke mancanegara. Mereka pun antusias saat berkunjung ke pabrik pengolahan tentang jenis ikan hingga proses pembekuannya.
Selain di Tapanuli Tengah, para duta besar juga diajak mampir ke Sibolga dan berkunjung ke Masjid Agung Sibolga. Para duta besar mengagumi keindahan masjid dan menara setinggi 45 meter yang merupakan mercusuar tersebut.
Perjalanan singkat selama 2 hari memberikan kesan tersendiri bagi para duta besar. Seperti yang diungkapkan oleh Duta Besar Kroasia untuk Indonesia, Drazen Margeta.
"Ini adalah pengalaman yang menyenangkan, bisa mengenal sejarah di Tapanuli Tengah. Potensi pariwisata di sini juga besar karena alamnya yang indah," kata Dubes Margeta.
Dia juga terkesan dengan keramahan masyarakat Tapanuli Tengah. Salah satu yang membekas di benaknya adalah saat anak-anak SD di Kecamatan Sorkam menyambut para dubes sambil mengibarkan bendera merah putih.
"Masyarakat di sini adalah yang terbaik," sambungnya.
Chargé d'affaires (CDA) Bulgaria untuk Indonesia, Alexandrina Guigova, mengatakan bahwa selama ini hanya Bali yang terkenal di negaranya. Dia pun akan meneruskan informasi tentang Tapanuli Tengah agar wisatawan dari Bulgaria bisa melihat bahwa Indonesia memiliki objek pariwisata lain.
"Warga Bulgaria harus lebih mengenal tentang Sumatera, Sulawesi, dan Papua. Setelah ini, bisa saja warga Muslim di Bulgaria ertarik untuk mengunjungi Tapanuli Tengah," ucap Guigova.
Meski memiliki banyak potensi di bidang pariwisata dan perikanan, Tapanuli Tengah masih punya banyak tantangan untuk mengembangkan diri. Salah satu saran yang diberikan oleh Dubes Uzbekistan untuk Indonesia, Shavkat Jamolov adalah terkait infrastruktur.
Para duta besar menempuh perjalanan darat dari bandara ke Barus selama 2 jam dan kembali ke Kecamatan Pandan sekitar 3 jam perjalanan. Dubes Jamolov merasa insfrastruktur jalan yang masih kurang baik dapat ditingkatkan.
"Pemerintah daerah dapat memperbaiki kembali infrastrukturnya. Selain itu, promosi dapat lebih besar sehingga semakin banyak yang mengenal Tapanuli Tengah," ungkapnya.
Special Envoy of Seychelles for ASEAN, Nico Barito mengungkapkan bahwa selama ini para duta besar yang lebih sering melihat sisi timur dari Sumatera, kini diajak untuk melihat sisi baratnya. Kunjungan ini pun tak hanya merupakan diplomatic trip, melainkan ada misi khusus.
"Ini merupakan komitmen negara sahabat ke program Presiden Jokowi untuk membangun ekonomi maritim dan pariwisata serta trans Sumatera," jelas Nico.
Tapanuli Tengah sudah jelas memiliki segudang potensi untuk dikembangkan, namun masih ada pula setumpuk tantangan untuk benar-benar menjadi 'negeri wisata sejuta pesona'. Para duta besar negara sahabat sudah terkesan dengan Tapanuli Tengah, bagaimana dengan masyarakat Indonesia sendiri? (news.detik/imk/Hbb)