GriyaWisata.Com - Masih banyak taman nasional yang ternyata ingin disetarakan dengan Taman Nasional Alas Purwo, Ujung Kulon, ataupun Komodo. Namun, sisi lain mengatakan, Taman Nasional yang memiliki Danau terunik di Asia tenggara ini, harus bangga dengan akses serta fasilitas yang hanya seadanya.
Taman Nasional Danau Sentarum di Kalimantan Barat. Taman nasional yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia ini memiliki danau satu-satunya di Indonesia dengan karakteristik pasang-surut.
Di kala musim kemarau, Danau Sentarum akan menjadi padang yang sangat luas, sedangkan di musim hujan akan menjadi danau dengan kedalaman enam hingga 12 meter. Danau unik itu juga merupakan satu-satunya danau pasang-surut di Asia Tenggara.
Namun, untuk menggapai Danau Sentarum ini, membutuhkan usaha yang cukup besar. Taman Nasional Danau Sentarum ini berjarak 700 kilometer dari Pontianak, setara dengan Jakarta-Surabaya. Danau ini harus diakses melalui akses udara lalu dilanjutkan dengan perjalanan melalui sungai ataupun darat, kurang lebih tujuh hingga 23 jam perjalanan. Jalan darat yang tak layak menjadi faktor lamanya perjalanan dengan motor.
Menurut cnnindonesia, "Tapi kalau datang dari arah Sarawak berbeda sekali. Kalau boleh jujur, sedih rasanya melihat akses dari Sarawak ke Danau Sentarum seperti jalan tol. Sedangkan dari arah Indonesia, akses ke Danau Sentarum, yah tidak usah dijelaskanlah sedih pokoknya," kata Angga Prathama, perwakilan WWF Indonesia yang pernah ke Danau Sentarum.
Pengembangan tata kelola taman nasional agar dapat menjadi sumber ekowisata yang baik sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan lingkungan alam dan sosial di sekelilingnya membutuhkan beberapa catatan.
"Bila suatu daerah atau taman nasional memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, tinggal tata kelola saja yang perlu diperhatikan. Yang terutama itu ya mengembangkan akses dengan catatan tidak merusak lingkungan," kata Endang. "Itu tugas pemerintah daerah, bukan pengelola taman nasional. Usaha pengembangan ekowisata harus ada koordinasi dari pemerintah pusat hingga daerah," katanya.
Menurut Endang, permasalahan ekowisata di Indonesia bukan terletak dari potensinya, namun lebih karena masalah pengembangan potensi yang dimiliki. Dalam pengembangan ekowisata, Endang menyebutkan setidaknya ada empat aspek yang perlu diperhatikan.
Pertama, adalah peraturan yang jelas mengenai penggunaan taman nasional ataupun wilayah konservasi sebagai arena pariwisata. Sejauh ini, terdapat Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam yang ditandatangani oleh Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam peraturan tersebut, tercantum peraturan, kewajiban, hak, serta ketentuan pengembang wisata alam di wilayah konservasi.
Kedua, adalah kesadaran masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya alam. Masyarakat di beberapa taman nasional di Indonesia sudah mulai memanfaatkan kekayaan taman nasional sebagai penambah pendapatan mereka seperti pada Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Masyarakat di sana, memanfaatkan waktu migrasi gajah sebagai lahan jasa wisata.
Faktor ketiga menurut Endang adalah dukungan lembaga terkait. Kelembagaan yang dimaksud mulai dari pemerintah pusat melalui kementerian yang mengeluarkan peraturan, hingga tingkat Gubernur, Bupati/Walikota yang memberikan izin hingga mengevaluasi kebermanfaatan taman nasional. Lainnya adalah lembaga swasta sebagai investor hingga pembantu konservasi.
"Faktor keempat adalah motivasi masyarakat baik lokal setempat maupun secara nasional.
Empat faktor itulah yang membuat ekowisata menjadi optimal," kata Endang. "Target ekowisata adalah eco-sustainable antara ekonomi, sosial-budaya, dan alam. Kalau sudah paham arti dari eco-sustainable itu maka akan optimal, tapi bukan maksimal.
Karena setelah maksimal, maka akan mati, tapi bila optimal maka akan lestari." Ray.