Griyawisata.com, Guilin adalah contoh kota pariwisata yang mengembangkan pengelolaan berbasis masyarakat dan lingkungan yang berkesinambungan.
Pengelolaan di Guilin, selaras dengan kebijakan pengembangan destinasi dan produk wisata Indonesia, yaitu sustainable eco-tourism and culture.
Kebijakan ini ditujukan untuk memelihara warisan budaya dan mengembangkan wisata alam, sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Penduduk setempat di Guilin sangat diuntungkan dengan kedatangan hampir ratusan ribu turis setiap harinya, dengan membuka toko menjual kerajinan dan suvenir, restoran dan café, tempat penginapan dan pusat pelayanan lainnya.
Tahun lalu, Guilin menerima sekitar 22,5 juta turis dari dalam dan luar negeri,” tutur Duta Besar RI untuk RRT merangkap Mongolia, Imron Cotan.
Oleh karena itu, dalam kunjungan kerja ke kota Nanning dan Guilin di Daerah Otonomi Zhuang Guangxi, Dubes Imrom berharap Indonesia dapat belajar dari Guilin untuk menggarap dan mengemas warisan legenda nusantara yang sangat kaya dan keindahan alam negeri pulau kelapa kita yang lebih beragam.
Nanning, yang dikenal sebagai ‘the Green City of China’, adalah ibukota Daerah Otonomi Zhuang Guangxi (setingkat Provinsi). Kota ini termasuk ‘late comer’ dalam perkembangan ekonomi dan sosial budaya di Tiongkok. Perubahan dan kemajuan signifikan baru mengemuka sejak kota tersebut ditetapkan sebagai ‘hub’ ASEAN-RRT di Tiongkok dan menjadi venue pelaksanaan China-ASEAN Expo (CA Expo) yang diadakan setiap tahun mulai 2004.[KBRI Beijing/Pl/msl]
| < Prev | Next > |
|---|








