Griyawisata.com, Asosiasi Perusahaan Penerbangan Niaga Indonesia (Inaca) meminta pemberlakuan biaya tambahan bahan bakar terkait lonjakan harga minyak dunia. Demikian disampaikan Ketua Inaca sekaligus Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Kamis (10/3).
Harga minyak dunia di atas 100 dollar Amerika Serikat per barel sebulan terakhir. Lonjakan perlahan berdampak terhadap industri penerbangan nasional. Sejumlah maskapai mengeluhkan tingginya bahan bakar avtur terhadap biaya maskapai.
Emirsyah meminta fuel surcharge kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Petunjuk diperlukan, kata Emirsyah, supaya Inaca tidak dituding melakukan kartel sewaktu biaya tambahan diberlakukan.
Inaca cenderung memberlakukan tambahan biaya ketimbang merevisi tarif batas atas. Pilihan dimaksudkan menjaga daya beli masyarakat tidak terganggu. Nantinya jika harga minyak kembali turun, otomatis biaya dihapus.
Menanggapi itu Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bhakti S. Gumay menilai fuel surcharge ataupun revisi tarif batas belum akan diberlakukan. Meskipun harga avtur naik, belum ada maskapai yang mengajukan keberatan.
Sementara itu Indonesia Air Asia mengaku tak mampu menahan kenaikan harga minyak. Maskapai penerbangan itu terpaksa menaikkan lima persen harga tiket layanan domestik. Itu meskipun tidak melampaui batas atas.[fay]
| < Prev | Next > |
|---|








