“Acara ini merupakan tradisi 'caosan' atau persembahan petani untuk Tuhan, karena kami telah menjalani puasa ramadhan dan kemudian merayakan lebaran," kata pimpinan Padepokan ‘Tjipta Boedaja’ Tutup Ngisor, Sitras Anjilin, Sabtu (11/9). Ia juga mengatakan pada acara “Caosan Lebaran” ini, sejumlah tembang gendhing yang dilantunkan bertutur tentang permohonan keselamatan pada masa mendatang, persembahan menghadap Tuhan, cerita tentang keraton sebagai pusat kebudayaan, permohonan rezeki, tolak bala, keindahan, dan penghormatan terhadap raja atau pemimpin.
Gendhing- gendhing yang dimaksud antara lain gendhing "Sri Wilujeng", "Subokastowo", "Sri Kacariyos", "Sri Rejeki", "Sri Dhandhang", "Asmaradana", "Kutut Manggung", "Sri Katon", Puspowarna"dan "Pangkur". Menurutnya, tradisi tersebut dilakukan sejak Padepokan Tjipta Boedaja tersebut didirikan pada 1937 oleh almarhum Romo Yososudarmo. “Acara tersebut dilakukan sebagai wujud penghormatan petani setempat kepada para leluhurnya,” katanya.
Sitras menambahkan, di Padepokan Tjipta Boedaja yang berada di lereng Merapi tersebut, setiap tahunnya wajib mementaskan kesenian tradisional seperti wayang orang dan menabuh gamelan sebanyak empat kali. Yakni hari pertama lebaran malam 1 Sura, peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, dan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.
Sebelumnya, masyarakat setempat menggelar ritual “bancakan” yang dilangsungkan di rumah kepala dusun setempat Harto Utomo. Usai menabuh gamelan yang dilaksanakan selama dua jam sejak sekitar pukul 08.30 hingga 10.30 WIB. Masyarakat setempat melakukan halal bil halal.[wlmn/py]
| < Prev | Next > |
|---|








