GriyaWisata.Com-Rodos merupakan sebuah kota wisata, tetapi hanya sedikit warga yang dapat berbahasa inggris. Letak pantai hanya beberapa ratus meter dari hotel, dengan hamparan pasir yang di penuhi turis pemuja matahari yang datang dari kawasan beku di Eropa. Di Rodos matahari bersinar cerah sepanjang tahun. Kota Rodos di bagi jadi dua bagian menurut garis waktu yaitu Kota lama dan Kota baru, namun ternyata Kota lama yang jadi tempat favorit bagi para pelancong. Tempat pertama yang kami lancongi adalah Palace of the Grand Master, istana yang di bangun pada abad ke-14 oleh Knights of Rhodes. Jalanan sepanjang 200 meter menuju istana dijuluki Odos Ippoton atau jalan Para Kesatria, rumah para pandekar Yunani ini berbaris pada ke dua sisi jalan dan bertindak seperti benteng untuk melindungi istana dari serangan musuh. Namun sebagian besar rumah sudah disulap jadi kantor kedutaan dan museum.
Palace of the Grand Master juga sudah diubah jadi museum, berbagai festival rutin diadakan di sini. Jika di lihat dari pelataran, istana tampak rusak seolah terbengkalai. Tetapi jika sudah masuk ke halaman tengah, kami langsung terpesona melihat kemegahannya. Patung-patung Yunani kuno berjejer rapi mengelilingi taman dengan udara di sisi interior juga terasa sejuk, itu di karenakan lantai istana dilapisi mozaik keramik. Pada pagi hari buta, kami langsung menuju Pelabuhan Mandraki di Rodos untuk naik "perahu taksi" menuju Pulau Symi berjarak 40 km dari pelabuhan, pulau yang cantik ini menyimpan bangunan dengan gaya Mediteriania yang berbaris di tebing.
Pertama kami dilabuhkan di Panormitis, pulau yang dihunioleh biara Katolik Ortodoks pada abad ke-18. Jika Anda ingin masuk ketempat ini Anda haurs menutup bahu dan lutut. Jika ada yang menggunakan tank top ga usah khawatir, karena di sini ada panyewaan kemeja dan sarung yang gampang di temukan di sekitar biara. Setelah itu kami sampai ke Pulau Symi, rumahnya berbentuk kotak dengan warna putih kaya mainan yang terlihat jelas saat perahu mendekati Pelabuhan Yialos. Pelabuhan ini ternyata mengoleksi banyak restoran dan kafe, tetapi ada yang paling unik yaitu toko suvenir yang menjajakan busa untuk mandi, oleh-oleh khas lokal yang sangat populer. Dibuat dari tanaman laut, spons ini konon dapat membuat kulit semulus kain sutra. Untuk standar orang Indonesia harga sangat mahal yaitu sekitar tujuh sampai puluhan Euro per buahnya.
Pulau berikutnya yang kami kunjungi adalah Lindos dengan jarak 50 km dari Rodos, untuk menjangkau objek wisata di pulau, dari Pelabuhan kami harus naik bus, kemudian berjalan kaki menyusuri jalan bertekstur naik-turun dan sangat curam. Pemandangan di sepanjang jalan sangat menakjubkan, air laut dengan warna gradasi dapat dilihat jelas. Sebelum kami sampai pantai, kami mampir ke Acropolis Lindos, bangunan pada abad pertengahan yang sekarang berbentuk puing. Dari tempat ini kami dapat melihat Teluk Saint Paul dengan bentuk mirip hati, dan Kota Lindos yang penuh dengan rumah penduduk yang bertengger di tebing.
Pelabuhan Mandraki merupakan tempat terbaik untuk melewati sore hari di Rodos. Kami begitu menikmati permukaan air laut yang sangat bening, tidak lupa kami memesan kuliner khas lokal yaitu Greek salad yang ditaburi keju spesial dan es kopi Yunani yang sangat manis.[tn]
| < Prev | Next > |
|---|

