GriyaWisata.Com-Kebudyaan Indonesia yang satu ini yaitu warisan budaya turun menurun yang diwariskan oleh penurusnya, dan sebagai penerus tentunya harus bertanggung jawab untuk melestarikan kebudayaan tersebut dengan didasarkan ke ikhlasan hati.
Dengan cuaca yang begitu mendukung para pemain dari kuda lumping membuka permainannya dengan mengambil cambuk panjang dan di putarkan sekitar 360 derajat dengan bunyi yang keras untuk membuka permainan tersebut, sehingga dapat menarik perhatian wisatawan yang sedang mengunjungi kawasan Kota Tua.
Dalam acara tersebut terdapat anak kecil yang berusia sekitar 6-7 tahun, anak tersebut memasuki arena dan kemudian di ikat seperti pocong dengan dilibatkan tali-tali di sekitar tubuhnya agar tidak bisa terlihat.
Setelah selesai mengikat anak kecil kemudian dimasukan kedalam ruangan yang menyerupai segitiga dengan warna hitam, tidak lama kemudian diambil kembali cambuk besar dan diputar kembali sekitar 360 derajat selama beberapa kali. Kemudian anak kecil yang berada didalam tersebut keluar kembali dari ruangan dengan mudah tanpa adanya kesulitan. Padahal sebelum masuk ke ruangan tersebut anak kecil itu sudah diikat dengan kencang, tetapi kemudian bisa keluar dengan mudah sungguh pertunjukan yang sangat menarik.
Setelah melakukan hal tersebut para anggota kuda lumping berjalan dengan tangan dibawah dan kaki diatas berjalan sekitar 7-10 meter selama beberapa kali. Lalu disediakan sebuah wadah yang berisi dengan bahan bakar dan kemudian diminum oleh anggota kuda lumping, sehingga dapat mengeluarkan api yang bisa tahan selama 5-10 detik dengan api yang besar.
Ada juga pertunjukan-pernjukan yang mengibur wisatawan dengan dialog-dialog yang lucu, agar penonton tidak terlalu jenuh mennyaksikan permainan tersebut. Aksi selanjutnya adalah memakan beling yang telah disediakan dan dimakan oleh anggota kuda lumping yang memainkanya sambil menari-nari, dan beling yang dimakan dengan lahap tanpa ada rasa sakit apalagi berdarah pada mulutnya.
Setelah pertunjukan memakan beling tersebut selesai pula pertunjukan yang disajikan. “ takut, tegang, serta harus di pertahankan kesenian tradisonal seperti ini”, ungkap yuni salah satu penonton yang telah menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional kuda lumping kepada wartawan GriyaWisata(24/05/2011).
“Untuk mementaskan kesenian tradional kuda lumping dibawa anggota sekitar 60 orang, dengan hasil yang dibawa tidak bisa dipastikan tergantung penonton nya saja, dan pertunjukan kesenian ini hadir setiap hari sabtu dan minggu” ungkap amron salah satu pemain dari kuda lumping yang berasal dari Surabaya yang ditemui setelah acara pertunjukan selesai.[wahyu/tn]
| < Prev | Next > |
|---|

