GriyaWisata.Com-Pesta Pattuddu, atau lebih dikenal Sayyang Pattuddu’ (kuda menari), begitu, suku Mandar menyebut acara ini. Sayyang Patuddu’ di sebagian wilayah di Kabupaten Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju lazim ditampilkan untuk merayakan keberhasilan anak-anak yang khatam Al Quran. Acara khatam yang diwarnai Sayyang Pattuddu’ ini hanya dilaksanakan sekali dalam setahun, yakni setiap bulan Maulid. Biasanya acara tersebut diselenggarakan per desa/kelurahan/kecamatan dengan waktu dan jumlah peserta yang berbeda-beda.
Sejak pagi warga berduyun-duyun mendatangi masjid, membawa berbagai hantaran dalam sebuah balasuji (wadah berbentuk segi empat besar yang terbuat dari bambu). Isi balasuji beragam, di antaranya pisang, kelapa, gula merah, beras, dan kue-kue tradisional. Mereka yang sudah sampai di masjid kemudian berzikir dan membaca doa hingga menjelang siang. Saat zikir usai, isi balasuji dibagi-bagikan kepada warga sekitar. Tak jarang pula pemilik balasuji saling bertukar isi dengan pembawa balasuji lainnya.
Pada saat yang sama, di rumah-rumah warga, kaum perempuan sibuk menyiapkan aneka masakan dan kue-kue. Umumnya di rumah-rumah yang penghuninya menggelar acara khitan, ruang tamu disulap menjadi tempat makan lesehan dengan baki dan tatakan makan lainnya yang penuh berisi beragam jenis makanan dan kue-kue.
“Kalau sudah begini, siapa pun yang singgah wajib mencicipi hidangan yang disajikan. Bahkan biasanya dari desa lain pun ada yang datang menyaksikan acara ini dan mereka juga dipanggil naik ke atas rumah untuk makan.
Kegembiraan dan keramaian tidak hanya berlangsung pagi hingga siang hari itu. Malam sebelumnya, rumah-rumah warga, yang putranya mengikuti acara khatam, sudah diramaikan suara orang-orang yang membacakan ayat-ayat suci Al Quran, lagu-lagu kasidah, dan tetabuhan rebana. Alunan syahdu itu terdengar sejak waktu shalat isya hingga menjelang pagi.
Bagi warga suku Mandar, suku yang sebagian mayoritas di Sulawesi Barat, khatam Al Quran adalah sesuatu yang sangat istimewa sehingga tamatnya membaca 30 juz Al Quran tersebut disyukuri secara khusus. Namun, tidak semua warga yang berdiam di Sulawesi Barat menggelar acara Sayyang Pattuddu’.
Soal acara penamatannya, tidak jadi soal kapan akan dilaksanakan. Kerap ada anak yang sudah tamat mengaji pada usia lima tahun, tetapi baru diacarakan saat berusia 10 tahun.
Begitu eratnya pertalian antara tamat mengaji dan gelar adat Sayyang Pattuddu’ sampai-sampai suku Mandar yang sudah berdiam di luar Sulawesi Barat akan kembali ke daerahnya untuk mengacarakan tamat mengaji itu. “Biasanya, setahun sebelum acara, orangtua sudah mulai mendaftarkan anaknya.
Tak ada yang tahu sejak kapan persisnya acara khatam diramaikan dengan Sayyang Pattuddu’. Kendati tidak jelas kapan mulainya, hingga kini warga di beberapa wilayah di Poliwali Mandar, Majene, dan Mamuju masih melakoni tradisi ini.[kll]
| Next > |
|---|

