GriyaWisata.Com-Setiap tanggal 12 Robiul Awal, umat Islam merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Diberbagai tempat di tanah air, beragam cara dilakukan untuk menunjukkan rasa gembira menyambut kelahiran sang nabi. Di Kecamatan Patany, Halmahera Tengah, Maluku Utara, masyarakatnya memiliki tradisi unik, tradisi itu disebut Coka Iba atau Topeng Setan.
Kecamatan Patany, Halmahera Tengah, terletak dibagian paling timur propinsi Maluku Utara, letaknya cukup jauh dari ibukota propinsi Ternate, sekitar 2 jam melalui jalan darat atau 6 jam memakai speedboat.
Di Kecamatan Patany inilah, berkembang sebuah tradisi menyambut kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Coka Iba atau topeng setan. Coka Iba merupakan bentuk kegembiraan seluruh alam atas sang pembawa rahmat termasuk para setan dan iblis. Iblis dan setan akan bergentayangan, memarahi, mengejar dan memukul manusia yang masih berada dijalanan karena dianggap tidak mensyukuri kelahiran Sang Rosul terakhir.
Sehari sebelum dilakukannya Coka Iba, kecamatan yang terdiri dari dua desa ini sudah bersolek, menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nuansa Islam yang sangat kental dalam keseharian masyarakat setempat.
Selepas Maghrib, para Bobato Akhirat atau Para Kadi pengurus masjid, sudah menyiapkan tempat berlangsungnya pembacaan Sarawal Anam. Sarawal Anam berisi puji-pujian dan kisah para rosul utusan Allah kemuka bumi, termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai rosul penutup.
Selagi para tetua kampung mendengungkan shalawat nabi di masjid, para pemuda sibuk merias diri dan menyiapkan Coka Iba atau berbagai jenis topeng yang akan dipakai esok hari. Biasanya bentuk topeng ini dirahasiakan, sehingga mereka tidak mudah dikenali. Dulunya topeng yang dipakai selalu menampilkan wajah seram, namun seiring perkembangan zaman, bentuk topeng pun berubah sesuai kreasi masing-masing pembuatnya.
Tak jarang, mereka mengeluarkan uang hingga ratusan ribu rupiah untuk dekorasi sebuah topeng yang akan dipakai. Walaupun demikian sesuai aturan adat, topeng asli berwajah menakutkan yang merupakan pimpinan dari seluruh Coka Iba tetap merupakan hal wajib. Pemimpin Coka Iba ini disebut Coka Iba Yani dan Coka Iba Gof.
Usai sholat Subuh, ratusan Coka Iba mulai berkumpul. Sangaji atau pejabat adat melepas Coka Iba Yani dengan pukulan ratanip tiga kali. Pada intinya, ritual Coka Iba mengingatkan setiap orang untuk tetap berada didalam rumah, mensyukuri lahirnya sang pembawa rahmat ke muka bumi. Bagi yang masih berkeliaran dijalanan tanpa kostum Coka Iba, maka para Coka Iba akan mengejar orang itu dan memukul tanpa ampun, hingga orang tersebut masuk kembali kedalam rumah.
Coka Iba bertugas hingga Maghrib selama tiga hari dijalanan, sampai datangnya waktu pataeng. Pantaeng merupakan ritual penutup dari perayaan Coka Iba. Dalam ritual pantaeng para ketua adat dan pemuka agama dua kampung yang berada di Patany, Wailaji, Kipai, akan saling berkunjung dan saling mema’afkan satu sama lainnya. Coka Iba sebuah tradisi warisan Sultan Tidore, tradisi ini kian tidak mempan digerus perubahan jaman.[kll]
| Next > |
|---|

