Hari ini: Jumat, 11 November 2016 16:58
Barometer Otomotif Terkini

Sejarah Dari Sarung Bugis

Jumat, 9 September 2016 16:30
Sarung Bugis

                       Makasar,GriyaWisata.Com  - Kain tenun yang satu ini termasuk spesial karena berasal dari bahan sutera dengan rangkaian benang emas dan perak. Kain tradisional Makasar ini juga menampilkan perpaduan warna yang agak rame dan motif kotak sehingga penampilan pesta kamu akan kelihatan berbeda.   

 
Menengok ke belakang, kerajinan sarung tenun samarinda awalnya dibawa para perantau Bugis dari Pulau Sulawesi, yang hijrah ke sungai tepian Mahakam. Tepatnya di Kampung Pamanah, , Gang Pertenunan, Samarinda Seberang.
 
Berada jauh dari tanah leluhur tidak membuat perempuan Bugis melupakan tradisi asalnya. Sambil menunggu suami mereka pulang bekerja, sambil mengasuh anak-anak, mereka memanfaatkan waktu dengan menenun kain. Motif kotak-kotak pada sarung inilah yang akhirnya menarik perhatian banyak orang, bahkan sampai ke negeri tetangga.
 
Di tempat yang kini bernama Kampung Masjid itu, tepat 22 tahun lalu saya lahir. Tempat yang juga jadi bagian dari areal pengembangan wisata sarung samarinda yang diresmikan Pemerintah Kota Samarinda tahun 2014. Dua dekade hidup menetap di sana, saya menyaksikan sendiri dinamika kerajinan sandang ini. Soal regenerasi yang krisis adalah salah satu yang patut mendapat perhatian.
 
Sebelumnya, kita patut akui, upaya pemerintah dalam menjaga eksistensi dari kain kotak-kotak ini sudah sangat bagus. Namun, mungkin belum banyak yang tahu bahwa kelestarian di sektor hulu dari produksi sarung samarinda mulai terkikis. Bukan soal bahan baku atau alat produksi konvensional yang autentik.
 
Keduanya masih mudah ditemukan, terutama di sekitaran Kampung Tenun. Bahan kain serta motif yang sama, bisa dibuat oleh siapapun. Namun, nilai tinggi dari sarung samarinda juga datang dari keaslian tradisi menenun secara konvensional, yang kini boleh dibilang sudah menjadi barang langka.
 
Herlina (34), adalah satu dari sedikit perajin yang bertahan sampai sekarang. Dia tinggal di Gang Pertenunan, hanya beda dua gang dari kediaman saya. Saat ditemui awal Mei lalu, dia menceritakan sulitnya mewariskan keahlian mengrajin tenun secara konvensional kepada generasi muda.
 
Perajin berusia 20-an tahun di kampungnya mungkin sudah tak ada. Bahkan mereka yang berorangtuakan penenun sekalipun tak cukup tertarik mewarisi keahlian itu. Paling muda, usia penenun sarung samarinda, ya berusia 30-an seperti Herlina.
 
“Sekarang memang susah mengajak mereka yang muda-muda. Mereka lebih suka kerja di pasar atau di mal sebagai pramuniaga. Selebihnya, gadis-gadis di sini banyak nikah muda,” kata Herlina, yang juga salah satu perajin Klaster sarung samarinda binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim.
 
Padahal sekarang sarung samarinda sudah didukung banyak pihak, termasuk dari Indonesia Kaltim. Permodalan, pemasaran, serta manajemen pelaku yang berstatus pengumpul maupun perajin mandiri, terus ditempa. Dukungan yang berpuluh-puluh tahun tidak mereka rasakan. “Dalam beberapa kesempatan kami juga diberi pembekalan tentang bagaimana menjalankan usaha yang benar,” ujar perempuan kelahiran 1982 tersebut.
 
Padahal, dari sisi bisnis, sarung samarinda punya nilai ekonomi yang tinggi. Herlina berujar, satu helai kain tenun yang dia buat bisa dijual antara Rp 270 ribu sampai di atas Rp 1 juta. Satu helai sarung bisa tenun itu, bisa dibuat dalam waktu satu hari jika telaten.
 
“Tapi biasanya pembuatan rata-rata sampai tiga hari per kain. Satu perajin bisa bikin tujuh kain dalam sebulan,” jelasnya.
 
Selain perajin, unsur penting dalam pelestarian sarung samarinda adalah para pemilik usaha. Fatmawati adalah salah satu pengusaha berpengaruh yang ikut mengembangkan sarung tenun asal Samarinda Seberang ini.  Sudah 20 tahun dia menjalankan usahanya. Nyaris seumur saya hidup. Meski bukan penenun, namun lewat Fatmawati, puluhan pengrajin dapat hidup dari menjual sarung samarinda.
 
Sampai saat ini, sarung samarinda masih menerima permintaan hingga ke negeri jiran, seperti Brunei Darussalam dan Malaysia. Daerah seperti Jawa dan Sulawesi pun jadi sasaran pasarnya.
 
Potensi besar untuk hidup mandiri itu, faktanya belum cukup manis di mata para perempuan muda di Kampung Tenun. Mesti kain dan motif yang sama bisa dibuat ulang, kelestarian metode asli pembuatannya kian terancam, karena pewaris yang terus menipis.
 
Bukti bahwa regenerasi ternyata tak cukup bermodal pemanis bibir dan semangat melestarikan budaya leluhur. Mereka, para pemudi di Kampung Tenun sarung samarinda, mesti mendapat jaminan nyata bahwa mereka dapat meraup rupiah dan hidup dari menenun kain tersebut. Namun, tidak perlu melepaskan identitas mereka sebagai para gadis kekinian.
 
Salah satu caranya, ya dengan melahirkan pandangan di tengah masyarakat bahwa kain tenun itu multisegmen. Sarat nilai leluhur ala para tetua, namun juga modis dipakai anak-anak muda. Beberapa tahun belakangan, ada sebagian pihak yang sudah mengupayakan itu. Namun kebanyakan justru terbatas pada produk busana premium, yang disajikan lewat peragaan busana. Padahal, di segmen itu, sulit terjangkau kalangan muda. Apalagi, di tengah gempuran tren fashion impor yang kian deras lewat mudahnya mengakses informasi.   (GS)
 
Baca juga:
Barometer Otomotif Terkini
Rating artikel: Belum ada rating
Rating
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full


Redaksi: [email protected]
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi :
Telepon 021-574 7057 · Fax 021-824 33 979
Raymond di 0812-881-230-00 · [email protected] · Blackberry: 7588039D
Barometer Properti Terkini

Follow Us!

Need Help

Iklan Niaga

TOUR & TRAVEL GUIDE

Dengan Traveling Bisa Dapat Menumbuhkan Semangat Nasionalisme
                       Jakarta,GriyaWisata.Com  -  Dengan menjelajahi alam akan tumbuh dengan sendirinya semangat nasionalisme dan ketika kita mulai lebih dekat dengan masyarakat, lebih dekat dengan alamnya muncul rasa cinta yang lebih untuk itu," kata Anggi saat ditemui di acara final konfigurasi Aksa 7 sekaligus memperingati Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Jakarta.

Aplikasi Google Trips Membantu Traveler Saat Traveling
                          Jakarta,GriyaWisata.Com  -  Google mempunyai salah satu aplikasi yang ditujukan untuk para pelancong yang bernama Google Trips. Google Trips yang tersedia untuk perangkat Android dan iOS memiliki data lengkap lebih dari 200 destinasi di dunia. Data tersebut mencakup destinasi, akomodasi, makanan dan minuman, cuaca, serta transportasi.