Griyawisata.com, Cenderawasih, Teluknya Papua, adalah teluk terbesar di Indonesia (1.453.500 hektar) dan menjadi rumah bagi begitu banyak jenis satwa dan tumbuhan. Taman nasional ini terletak pada 01° 43’ – 03° 22‘ Lintang Selatan and 134° 06’ – 135° 10’ Bujur Timur. Secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Wondama dan Nabire, Propinsi Papua Barat. Di Nabire ada tujuh kampung dengan 2,500 penduduk, sementara di Wondama ada 21 kampung dengan 15,000 penduduk. Karena masyarakat yang hidup di sekitar dan di dalam kawasan taman nasional sangat bergantung pada sumber daya laut untuk kehidupannya, mereka memelihara sumber daya tersebut secara hati-hati dengan menerapkan larangan-larangan tradisional. Luas tutupan terumbu karang di taman nasional ini mencapai 80,000 hektar dengan 238 jenis karang, berupa karang-karang berkelompok, karang tepi, karang penghalang, atol dan karang di perairan dangkal. Terumbu karang ini adalah rumah bagi 321 jenis ikan, 38 jenis gastrophoda dan 9 jenis lamun. Selain itu, 29 jenis bakau, 207 jenis moluska (12 diantaranya dilindungi) dan penyu juga dapat ditemukan disini. Mamalia seperti lumba-lumba, paus dan duyung juga sering terlihat.
Teluk yang Biru
Lumba-lumba mulut botol sering mengikuti kapal saat kita mengelilingi Pulau Iwari, Yoop dan Mioswar, sementara ikan-ikan terbang menjadi pemandangan yang menarik. Snorkeling dan menyelam di TN Teluk Cenderawasih wajib hukumnya bagi mereka yang menghargai kekayaan biota perairan tropis. Terowongan sepanjang 10 meter membawa kita memasuki laguna Pulau Purup di sisi selatan Pulau Rumberpoon, kita bisa menikmati pemandangan terumbu karang dengan ikan badut yang lucu ditengah anemon. Hiu paus (Rhincodon typus ) berenang berputar-putar di Teluk Umar, Kabupaten Nabire. Kita bisa memegang makhluk luar biasa yang panjangnya 9 meter dan berat 4.5 ton. Sebagian kawasan ini juga di tutupi padang lamun sehingga mengundang duyung (Dugong dugon) datang kesitu. Bila beruntung, kita bisa melihat burung Cenderawasih yang berwarna-warni saat berkunjung ke desa. Kima raksasa (Tridacna gigas), spesies yang mulai sulit ditemukan ditempat lain, bisa kita temukan dalam jumlah banyak di Napan Yaur. Teluk ini juga menjadi tempat bermain penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu tempayan (Caretta caretta) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Menjelajahi keindahan alami Teluk Cenderawasih akan semakin lengkap dengan eksplorasi bangkai pesawat terbang masa Perang Dunia II di Selat Numamurang.
Burung yang Berwarna-warni
TN Teluk Cenderawasih adalah surga dunia untuk burung-burung endemik dan migrasi. Aneka burung berbagai warna berloncatan dari pohon ke pohon. Burung Gosong (Megapodius sp) yang pemalu membangun sarang mereka seperti piramid dari pasir. Ukurannya bisa sebesar rumah manusia. Namun karena pemalu, jarang sekali orang bisa melihat mereka di habitatnya, antara lain di Cagar Alam Wondibuoy, Wasior. Sedikit ke arah timur dari Wasior, bisa kita temukan burung endemik Junai Emas Bird (Coelonas nicobarica). Walaupun mereka membangun sarang di pucuk-pucuk pohon, mereka mencari makan diatas tanah seperti seekor ayam. Satwa menarik lainnya adalah burung Kakatua Jambul (Cacatua galerita) dan Kuskus pohon (Phalanger sp) di Pulau Rumberpoon, serta burung Pelikan di Sobey. Sensus jenis-jenis spesies masih berlangsung sampai saat ini.
Wisata Budaya
Selain untuk eksplorasi keindahan laut, TN Teluk Cenderawasih merupakan tempat yang ideal untuk ekspedisi ekowisata dan wisata kebudayaan masyarakat asli pesisir Papua. Sambil menyusuri jalan setapak ke sumber air panas di Yende, kita bisa mampir di sebuah gua bersejarah yang menyimpan kerangka leluhur orang etnis Wandau. Diperkirakan mereka adalah kelompok manusia pertama yang datang ke Kecamatan Mioswar, Wondama. Untuk mengenal lebih jauh G.L. Blink, seorang misionaris, yang bekerja keras membawa peradaban dan gereja, kita bisa mengunjungi gereja tua Isna Jedi yang dibangun tahun 1884. Di dalamnya terdapat Injil tertua di Papua.
Pohon sagu banyak ditemukan di wilayah Teluk Wandamen. Masyarakat mengolah sagu menjadi makanan sehari-hari. Menarik sekali melihat proses pengolahan sagu, dan bisa juga mencoba rasanya sedikit.
Suhu rata-rata dikawasan ini berkisar 21-28 0C, curah hujan antara 1.295 – 3.703 mm, dan musim kunjungan terbaik adalah antara bulan April – Agustus. Kawasan ini adalah daerah endemik malaria, pengunjung sebaiknya membekali diri dengan anti-malaria sebelum keberangkatan. Cara termudah adalah berangkat dari Jakarta atau Makassar atau Denpasar dengan pesawat ke Manokwari. Kemudian, kapal (speed boat) sewaan atau kapal ferry reguler akan membawa kita ke Wasior, jantung Teluk Cenderawasih
Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih memiliki beberapa fungsi, yaitu :
Melindungi jenis-jenis hewan laut dan darat yang hampir punah atau yang terancam. Memelihara habitat-habitat perairan, pantai dan pulau dalam kawasan ini. Melindungi kawasan-kawasan perairan laut yang memiliki nilai biologis yang tinggi atau keindahan yang menonjol. Menjaga pemanfaatan sumberdaya perairan laut dan pantai secara rasional erta berkelanjutan untuk kepentingan sekarang dan akan datang. Sebagai suatu obyek penelitian, pendidikan dan rekreasi. Melindungi fungsi daerah aliran sungai di daerah pantai daratan pulau se- hingga dapat mencegah erosi tanah yang dapat menimbulkan kerusakan ingkungan hidup di laut, terutama terumbu karang.[wlmn/sr]
| < Prev | Next > |
|---|

