Griyawisata.com, Masyarakat Dusun Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak Sleman kembali menggelar upacara adat saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, puncak acara Upacara Adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo akan digelar pada siang hari Jum’at 14 Januari 2011 mulai pukul 13.00 WIB di Balai Desa Widodomartani Ngemplak Sleman.
Puncak acara upacara adat Ki Ageng Wonolelo pada tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan pada malam hari, namun mulai tahun ini dan tahun-tahun mendatang akan dilaksanakan pada siang hari. Demikian diungkapkan Ketua Panitia Tony Suryanto Purwanto, Selasa 4 Januari 2011 di Pondok Wonolelo.
Prosesi upacara adat saparan diawali dengan pengajian akbar sebagai upaya meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai ulama besar dan penyebar agama Islam. Dalam prosesi kirab pusaka ditampilkan semua pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo, diantaranya kitab Suci Al Qur’an, Baju Onto Kusuma, Kopyah, Bongkahan Mustoko Masjid dan tongkat yang dimulai dari halaman Balai Desa Widodomartani menuju Makam Ki Ageng Wonolelo.
Kirab pusaka juga diiringi oleh drum band SMP Negeri I Ngemplak, Bregada Ganggeng Samodra, Bregada Muspika Kecamatan Ngemplak, Putri Bhayangkari, Putri Domas, Para santri dan alim ulama, gunungan apem, sesaji, bregada Ki Ageng Wonolelo, bregada ungel-ungelan dan tamu undangan.
Selesai prosesi kirab pusaka dilanjutkan dengan penyebaran apem seberat 1 (satu) ton sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas karunia Tuhan YME yang berupa rizqi, kesehatan, keselamatan dan ketenteraman. Apem yang disebarkan sebagai simbolisme sodaqoh untuk diperebutkan oleh pengunjung yang dianggap dapat mendatangkan keberkahan hidup.
Ki Ageng Wonolelo dengan nama asli Jumadi Geno merupakan seorang keturunan Prabu Brawijaya V sekaligus sebagai tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Mataram. Ia bermukim di Dusun Pondok Wonolelo, memiliki ilmu kebatinan yang tinggi pada masa itu. Karena memiliki ilmu yang linuwih, ia pernah diutus oleh Raja Mataram ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang saat itu membangkan terhadap Mataram. Iapun berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya.
Nama Ki Ageng Wonolelo atau Jumadi Geno semakin tersohor dari waktu ke waktu sehingga semakin banyak orang yang berdatangan untuk berguru dengannya. Sebagai seorang panutan yang memiliki ilmu tinggi ia banyak mewariskan berbagai peninggalan yang berupa tapak tilas dan pusaka atau jimat dan benda keramat lainnya. Pusaka, jimat dan berbagai benda keramat peninggalan Ki Ageng Wonolelo inilah yang kemudian dikirabkan setiap bulan Sapar pada setiap tahunnya.
Ketua Panitia Tony Suryanto Purwanto menambahkan bahwa maksud dan tujuan diselenggarakannya upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo adalah untuk mendukung Yogyakarta dan khususnya Sleman sebagai daerah tujuan wisata, mengajak generasi muda untuk menggali dan lebih memahami nilai-nilai seni budaya yang adiluhung dan memberikan wahana bagi pertumbuhan kesenian rakyat serta menumbuhkan rasa handarbeni dan kecintaan terhadap seni budaya bangsa sendiri. Disamping itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pelaku ekonomi selama aktivitas kegiatan berlangsung.
Menurutnya, pelaksanaan upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo telah diawali dengan Pengajian Akbar pada tanggal 30 Desember 2010 silam dengan pembicara Kyai Suyanto, S.Ag, MSi. Pengajian tersebut sebagai syiar agama Islam dan sebagai upaya meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam yang gigih. Disamping pengajian akbar juga diselenggarakan pasar malam mulai 31 Desember 2010 hingga 15 Janurai 2011, yang menampilkan berbagai stand jajanan tradisional, makanan khas daerah, aneka produk kerajinan, mainan anak-anak, dsb serta pentas seni diantaranya dangdut, jathilan, topeng ireng dsb.
Secara terpisah Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Drs. Untoro Budiharjo mengatakan bahwa upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo merupakan salah satu upacara adat yang masuk dalam kalender of event tetap dan gaungnya sudah menasional. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri yang mampu menggaet wisatawan dari berbagai daerah dan manca negara.
Terlebih lagi agenda khas menarik berupa penyebaran apem atau kue tepung beras yang banyak ditunggu-tunggu wisatawan. Disamping itu melalui upacara ini juga dapat dimanfaatkan untuk menggali nilai-nilai keteladanan terhadap kepemimpinan Ki Ageng Wonolelo serta perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan harga diri bangsa. Diharapkan upacara adat ini merupakan ajang yang strategis bagi upaya revitalisasi, pelestarian dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap budaya bangsa yang adiluhung.
Sedangkan mengenai penyelenggaraan pada siang hari diharapkan upacara adat Saparan Ki Ageng Wonolelo kedepan akan lebih ramai dan lebih besar lagi. Selain menjadi wisata alternatif bagi wisatawan yang mengunjungi bekas erupsi Merapi di kawasan Cangkringan dan sekitarnya, para tour operator dan travel agent dapat mengagendakan kunjungan bagi para tamunya.[wlmn/seruu.com]
| < Prev | Next > |
|---|






