GriyaWisata.Com-Suku Dayak khususnya sub suku Dayak Desa, pada waktu dulu setiap perempuan mempunyai kewajiban untuk menenun, hal ini dikarenakan sebagai tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan akan pakaian serta keperluan adat istiadat. Seni budaya menenun merupakan kebudayaan yang diwariskan oleh generasi terdahulu yang mempunyai keunikan, nilai seni dan sejarah yang tinggi.
Tahapan untuk menghasilkan sebuah karya kain tenun ikat dimulai dari penanaman kapas, pembuatan benang/memintal, ngaos (peminyakan benang), mewarna/mencelup, mengikat motif, menenun dan menjadiakan pakaian adat merupakan rangkaian yang panjang. Bahan baku untuk menghasilkan kain tenun adalah benang dan pewarnaan.
Untuk mendapat benang dimulai dari menanam tumbuhan kapas yang ditanam di lading pada musim sesudah panen, selanjutnya diolah atau dipintal sendiri menjadi benang. Demikian juga pewarna berasal dari alam yaitu tumbuh-tumbuhan (daun, akar, batang, kulit, buah, umbi, biji, dll), maupun binatang (lemak ular sawa, labi-labi dan sebagainya).
Peralatan yang dipergunakan dibuat sendiri secara sederhana menggunakan bahan alam yang tersedia di lingkungan pemukiman dan menggunakan bahan yang berkualitas baik, yaitu dengan kayu ulin, rotan, dan bahan lain yang dipercayai berkualitas baik. Peralatan terdiri dari alat untuk memisahkan serat kapas dengan bijinya, alat memintal (gasing), alat membentang benang, dan alat menenun. Inilah rangkaian proses yang ditelusuri dalam menghasilkan suatu karya seni kain tenun ikat Dayak sebagai salah satu kekayaan budaya masyarakat Dayak khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. [tn]
| < Prev | Next > |
|---|

