GriyaWisata.Com- Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara merupakan daerah kepulauan, masyarakatnya bergantung kepada kapal laut, namun tidak setiap hari ada pelayaran. Iklim wilayah ini dipengaruhi Samudra Hindia. Jika ombak tenang, kapal yang menghubungkan Teluk Dalam dengan Pulau Tello, bisa berlayar 2-3 kali seminggu. Perubahan cuaca yang drastis sering mengubah jadwal penerbangan dari lapangan terbang perintis di Pulau Tello. Bukan hal aneh bila penerbangan terpaksa dibatalkan karena kondisi cuaca yang buruk.
Potensi wisata wilayah ini terletak pada jalur yang disebut Segitiga Emas Industri Pariwisata Nias Selatan, yakni Kecamatan Lolowa’u, Gomo dan Pulau-pulau Batu. Porosnya adalah Omo Hada, di mana terdapat rumahtradisional di Desa Bawomataluo, Kecamatan Teluk Dalam.
Kepulauan ini pernah dihempas Tsunami beberapa tahun lalu. Dampaknya masih terasa hingga saat ini, bahkan rekonstruksi wilayah yang diterjang tsunamipun belum lagi rampung. Tapi fenomena bahwa wilayah ini memiliki ombak yang indah dan sering dijadikan ajang selancar tingkat internasional tentu tak perlu diragukan. Meski pengelolaan sektor wisata di wilayah ini belumlah maksimal.
Nias Selatan terdiri dari 104 gugusan pulau besar dan kecil. Letak pulau- pulau itu memanjang sejajar Pulau Sumatera. Pulau-pulau tersebut memiliki panjang sekitar 60 kilometer dan lebar 40 kilometer. Terdapat empat pulau besar, yakni Pulau Tanah Bala (39,67 km2) Pulau Tanah Masa (32,16 km2), Pulau Tello (18 km2), dan Pulau Pini (24,36 km2). Tidak seluruh pulau berpenghuni, karena masyarakatnya tersebar di 21 pulau dalam delapan kecamatan.
Di kabupaten ini masih banyak tersimpan cerita yang sangat sayang jika di lupakan. Pantai yang indah, di tambah suasana peselancar membuat pesonanya membumbung hingga Mancanegara. Nias Selatan nyaris tak dapat dipisahkan dengan tradisi lompat batunya.
Hombo (lompat) batu merupakan tradisi yang sangat populer di Kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari). Desa Bawo Mataluo adalah desa yang kaya dengan situs megalitik (batu besar) berukir dan di dalamnya terdapat perumahan tradisional khas Nias (omo hada).
Setelah otonomi daerah pada tahun 2003, Desa Bawo Mataluo menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Nias Selatan. Sebelumnya, desa ini masuk kedalam wilayah Kabupaten Nias. Ibu kota kabupaten Nias Selatan ialah Teluk Dalam. Kabupaten ini memiliki keindahan alam dan keunikan budaya yang luar biasa.
Berada di Desa ini seakan anda terlempar ke masa silam. Deretan rumah tradisional terbuat dari kayu dengan arsitektur khas Nias ini dihuni sebagai mana layaknya kompleks perumahan. Ukiran batu megalitik menghias di beberapa tempat. Di perkampungan itu anda bisa menyaksikan tradisi hombo batu atau lompat batu.
Tradisi Hombo (lompat) batu atau yang biasa disebut Fahombo adalah ritus budaya untuk menentukan apakah seorang pemuda di Desa Bawo Mataluo dapat diakui sebagai pemuda yang telah dewasa atau belum. Para pemuda itu akandiakui sebagai lelaki pemberani dan memenuhi syarat untuk menikah apabila dapat melompati sebuah tumpukan batu yang dibuat sedemikian rupa yang tingginya lebih dari dua meter. Ada upacara ritual khusus sebelum para pemuda melompatinya. Sambil mengenakan pakaian adat, mereka berlari dengan menginjak batu penopang kecil terlebih dahulu untuk dapat melewati bangunan batu yang tinggi tersebut.
Batu yang harus dilompati adalah berupa bangunan mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atas datar. Tingginya kurang lebih 2 m (dua meter) dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm. Para pelompat tidak hanya sekedar harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki tekhnik seperti saat mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang.
Selain sebagai penguji fisik dan mental bagi pemuda yang berhak mengikuti perang, Tradisi Fahombo ini juga dinilai sebagai syarat bagi mereka yang siap menikah, karena bagi mereka yang tidak berhasil melompati batu tersebut dianggap belum pantas untuk meminang seorang gadis. Begitu terkenalnya tradisi lompat batu ini membuat tradisi ini pernah diabadikan pada pecahan uang seribu rupiah pada awal tahun 1990-an dengan gambar seorang pria Nias yang sedang melompati tugu batu.[eron]
| < Prev | Next > |
|---|

