GriyaWisata.Com-Musik tradisional lahir dari proses panjang interaksi manusia dengan alam. Oleh karena alam yang menjadi sumber inspirasi berbeda-beda, maka musik yang dihasilkannyapun juga berbeda-beda, tidak hanya pada bunyi-bunyiannya, tetapi juga pada alat-alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi-bunyian tesebut.
Musik tradisional tidak saja digunakan untuk hiburan, tetapi juga digunakan oleh masyarakat yang memegang teguh tradisi untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Mereka berkomunikasi dengan Tuhan menggunakan irama musik dan nyanyian.
Kebudayaan merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan sesamanya, dan antara manusia dengan alam dimana mereka hidup. Oleh karena pola-pola interaksi yang terjadi berbeda-beda, maka kebudayaan yang dihasilkan berbeda-beda dan mempunyai keunikan masing-masing. Salah satu kebudayaan yang cukup unik tersebut adalah Musik Bambu Hitada. Musik tradisional ini merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Halmahera, Maluku Utara.
Di Ternate, pohon bambu selain dimanfaatkan sebagai bahan baku peralatan dalam kebutuhan sehari-hari bahkan dimanfaatkan sebagai alat musik. Masyarakat Ternate biasa menyebut alat musik tersebut dengan sebutan “Musik Bambu Hitada”.
Musik Bambu Hitada ini biasanya dimainkan pada acara-acara tertentu seperti perhelatan pernikahan, pesta rakyat, dan syukuran di suatu kampung. Musik tradisional ini biasanya dimainkan secara bersama-sama oleh beberapa orang. Alat musik utama pada musik Bambu Hitada adalah batangan bamboo itu sendiri, yang biasanya hanya terdiri dari 2 ruas saja dan panjangnya tidak boleh lebih dari 1,75 m. biasanya batang bambu ini sudah dilubangi sesuai nada dan dicat warna-warni untuk membuat tampilan bambu menjadi lebih indah.
Cara memainkannya dengan cara membunyikan bambu dengan cara dibanting tegak lurus di tanah atau bila di atas lantai harus dialasi dengan karung goni.Musik Bambu Hitada dan Yanger ini biasanya dimainkan pada acara-acara tertentu, seperti; Hajatan Perkawinan, Pesta Rakyat atau Hajatan Syukuran di suatu kampung. Musik tradisional ini biasanya dimainkan secara bersama-sama oleh beberapa orang dalam ikatan “Group”. Sebuah group musik beranggotakan 5 hingga 13 orang.
Alat musik utama pada musik Bambu Hitada adalah batangan bambu itu sendiri, yang biasanya hanya terdiri dari 2 ruas saja dan panjangnya tidak lebih dari 1,75 m. Biasanya batang bambu ini sudah sudah dilobangi sesuai nada tone, dan dicat warna-warni untuk membuat tampilan bambu menjadi lebih indah.
Batang bambu dibunyikan dengan cara dibanting tegak lurus di tanah atau bila di atas ubin harus dialas dengan karung goni. Selain itu ada juga alat musik “Cikir” yang terbuat dari batok buah kelapa yang masih utuh dan diisi dengan beberapa butir kerikil bulat atau biji kacang hijau kering.
Selain itu dibutuhkan beberapa buah gitar kecil buatan sendiri yang disebut “Juk” serta satu atau dua buah Biola tradisional. Kedua alat ini biasanya dicat dengan warna-warni yang kontras untuk keindahan. Alat-alat musik ini dimainkan secara bersama-sama, sehingga menghasilkan satu irama musik yang enak didengar. Pada musik Bambu Hitada lebih membutuhkan banyak personil untuk memainkannya, karena setiap orang hanya memegang dua batang bambu yang hanya memiliki nada satu tone saja.
Setiap musik yang dimainkan biasanya mengiringi dua orang vokalis atau lebih yang menyanyikan sebuah lagu tradisional. Seperti biasanya orang menyanyi, pada musik tradisional orang Halmahera ini, durasinya antara 5 hingga 10 menit per lagu. Satu hal yang perlu diketahui bahwa, semua personil group musik ini, biasanya adalah kaum laki-laki. Jarang terlihat kaum wanita bergabung dalam group musik tradisional ini, kalaupun ada paling berperan sebagai vokalis saja.
Mungkin anda dapat mengaplikasikan musik ini sebagai Genre Musik Band anda. Paling tidak anda dapat menghargainya sebagai cipta karya musik tradisional yang sangat perlu untuk di lestarikan, atau bahkan anda dapat mempublikasikannya kepada seluruh Masyarakat Indonesia lewat apapun itu.[lwg]
| Next > |
|---|

