GriyaWisata.Com-Bagi Orang Indonesia, sunatan masal nampaknya bukan pemandangan yang aneh lagi. Hampir setiap tahun ada saja yang melakukan tradisi itu secara turun temurun, baik kewajiban spiritual maupun kewajiban sosial. Seorang laki-laki dianjurkan menjalankannya sebelum beranjak dewasa. Sedangkan hal ini tidak dianjurkan bagi kaum hawa.
Dibeberapa wilayah, bagi yang tidak dapat merayakan hajatan karena ketidak mampuan secara materil biasanya mengikut sertakan anaknya pada hajatan secara bersama-sama dan dibiayai oleh lembaga maupun individu, kemudian Orang sebut sebagai Sunatan Masal.
Tapi bagaimana jika sunatan masal ini terjadi di luar Indonesia. Filipina baru-baru ini mendaftarkan diri pada rekor sunatan masal dengan peserta terbanyak yakni 1.500 Orang.
Acara yang dinamakan Circumcision Party ini digelar di kota Marikina, sebelah timur kota Manila akhir pekan lalu. Seperti di Indonesia, sebagian besar pesertanya adalah bocah laki-laki dari golongan kurang mampu dan rata-rata berusia 9 tahun ke atas.
Kegiatan ini di lakukan oleh dinas Kesehatan setempat bertujuan untuk menyosialisasikan prosedur sunat yang benar. Selama ini, sunatan di Filipina banyak dilakukan oleh tenaga non-medis sehingga kurang terjamin keamanannya. Karena kegiatan ini jarang, maka dinas kesehatan berinisiatif untuk mendaftarkannya sebagai rekor dunia.
Dalam tradisi masyarakat Filipina, remaja laki-laki umumnya disunat pada masa liburan sekolah antara bulan Maret hingga Mei tiap tahun. Namun karena ongkos sunatan di rumah sakit cukup mahal yakni sekitar Rp 342 ribu, kebanyakan warga menggunakan jasa juru sunat ilegal.
Sejauh ini, belum ada rekor dunia yang dicatatkan ke Guinness Book of World Records untuk kategori sunatan massal. Sebagai pendaftar pertama, ada kemungkinan Circumcision Party di Filipina bakal diakui sebagai sunatan massal terbanyak di dunia.
Meski begitu, dilihat dari jumlahnya acara tersebut sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan sunatan massal yang sering digelar di Indonesia. Menurut catatan Museum Rekor Indonesia (MURI), sunatan massal dengan peserta terbanyak dicetak di Wonosobo Jawa Timur tahun 2006 dengan peserta 2.637 anak.
Jumlah peserta yang lebih banyak juga pernah dicetak sebuah bank swasta pada tahun 2008, yakni sekitar 5.000 anak. Namun torehan ini tidak menggeser rekor sebelumnya, karena tidak digelar di satu lokasi melainkan serempak di 15 kota se-Indonesia.
Rekor lain yang pernah dicatat MURI adalah sunatan massal pertama yang diadakan di dalam bus berjalan, yang dipecahkan di Karanganyar, Jawa Tengah dengan peserta hanya 25 anak. Selain itu, MURI juga mencatat sunatan massal terlama yang dilakukan oleh 1 orang yakni selama 40 jam dengan pasien sebanyak 187 anak di Tabanan, Bali akhir tahun 2010.[ern]
| Next > |
|---|

