GriyaWisata.Com-Ramainya hari raya Waisak kali ini, disambut meriah oleh Masyarakat Palu, Sulawesi Tengah. Berbagai ritual dan kegiatan di bentuk untuk menyambut hari raya umat Budha kali ini.
Panitia Pelaksana Hari Raya Waisak Tahun 2555/2011 akan menggelar sejumlah kegiatan antara lain jalan santai dan lomba melukis. Ketua Panitia Pelaksana Hari Raya Waisak di Palu Wijaya Candra, mengatakan selain menggelar jalan santai dan lomba melukis di kalangan anak TK, juga cerdas-cermat untuk siswa SMP/SMA, dan anjang sana ke beberapa panti asuhan setempat.
Ia mengatakan, semua kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada Minggu (15/5) dipusatkan di sekolah Karuna Dipa yang berhadapan langsung dengan tempat sembayang umat Budha yakni Wihara Karuna Dipa terletak di bilangan Jln Sungai Lariang, Kecamatan Palu Barat.
Selain itu, pada puncak peringatan Hari Raya Waisak pada Selasa (17/5) usai umat Budha melaksanakan sembayang di Wihara akan ada kegiatan pertunjukan Barongsai, tarian leluhur dari China. Tarian Barongsai selalu digelar setiap perayaraan hari-hari besar Agama Budha, termasuk Imlek dan Waisak.
Namun demikian, kata Candra, perayaan Waisak kali ini hanya dilakukan sederhana.
Meski hanya akan dilaksanakan secara sederhana, tetapi diharapkan kebaktian dan pemanjatan doa pada acara puncak akan dihadiri oleh seluruh umat Budha yang ada di ibu kota provinsi itu. "Kami berharap semua umat Budha di Palu akan ikut menghadiri perayaan Waisak yang di pusatkan di Wihara Karuna Dipa," katanya.
Sementara tema Peringatan Hari Raya Waisak 2555/2011 adalah Kedamaian Cahaya Kebenaran.
Kedamaian dan kebahagiaan dalam ajaran Buddha memiliki kesamaan makna, manusia tidak akan bahagia apabila tidak menemukan kedamaian, demikian pula tidak ada kedamaian tanpa kebahagiaan.
Di beberapa kota di Sulawesi pun tak kalah ikut memeriahkannya, seperti, vihara di Kabupaten Bone dan Parepare yang merayakan malam 1.000 harapan.Pada malam hari Waisak, pembakaran lilin 1.000 pun dinyalakan. Sejumlah tempat ibadah lainnya yang juga merayakan hari Waisak, yakni Vihara Sasanadipa dan Cetiya Avalokitesvara, juga menyambut perayaan hari Trisuci dengan menggelar berbagai kegiatan.
Menurut Ketua Panitia Waisak Bersama, Miguel Dharmadjie, perayaan Waisak kali ini bertema “Kedamaian Cahaya Kebenaran”. “Ini menyongsong perjalanan Buddha mencapai cahaya kebenaran dalam perjalanannya yang kita kenal sebagai Trisuci Waisak,”kata dia.
Salah satu kegiatan menyambut hari Waisak yang dilaksanakan oleh sejumlah vihara di Makassar adalah pindapata. Pindapata adalah rangkaian perjalanan biksu ke permukiman warga untuk memenuhi kebutuhan pokoknya secara sukarela. Menurut Miguel, para biksu yang menjalankan pindapata akan terbebas dari mata pencaharian yang salah dan dapat menjalankan vinaya dengan baik.“Singkatnya, pindapata itu tradisi bagi para biksu mengumpulkan makanan dengan berjalan kaki,”katanya.
Panitia Waisak Bersama menggelar pindapata selama sehari tepat pada hari perayaan Waisak, 17 Mei 2011.
“Ada lima biksu yang akan melakukan perjalanan pindapata dengan rute Jalan Wahidin Sudirohusoso, Jalan Irian, Jalan Sangir, dan berakhir di Jalan Sulawesi di depan Klenteng Kwan Kong,”katanya. Para biksu, kata Miguel, akan membawa mangkuk besar dan meminta secara sukarela kebutuhan pokok dari masyarakat setempat.
Vihara Girinaga juga menggelar pindapata. Bedanya, vihara ini menggelar pindapata bersama sembilan biksu dari Kamboja selama tiga hari dengan rute di sekitar Jalan Sulawesi. Jauh sebelumnya, umat Buddha menjalankan pencerahan berupa pendalaman dhamma. Ini adalah kegiatan pencerahan yang dibawa oleh sejumlah biksu senior yang didatangkan dari luar Sulawesi Selatan.
Tepat pada hari Trisuci Waisak, umat Buddha akan mengadakan Puja Bakti dan menyambut detik-detik Waisak di sejumlah vihara. “Kami sembahyang dan mem
bakar lilin sambil mengucap doa kepada sang Buddha pada malam hari,”kata Roy.
Sebulan sebelumnya, sejumlah kegiatan dan bakti sosial juga telah dilakukan oleh panitia Waisak Bersama dan sejumlah vihara di Makassar. Menurut Miguel, kegiatan itu adalah rangkaian proses umat Buddha mencapai puncak pada bulan Waisak. “Kita ada ziarah ke taman makam pahlawan dan seminar kesehatan,”kata dia.
Pada acara pindapata, sumbangan dari masyarakat juga akan dikembalikan kepada masyarakat yang kurang mampu. Panitia Pindapata Perayaan Waisak Bersama berharap persembahan yang diberikan kepada para biksu, baik berupa makanan maupun minuman, sebaiknya persembahan yang tidak mudah basi.“Sebab, kami akan menyalurkannya kembali dalam bakti sosial ke panti jompo, panti asuhan, dan penyandang cacat di Makassar,” kata Lince, koordinator Pindapata Waisak Bersama.[ant/ekt/kll]
| < Prev | Next > |
|---|

