GriyaWisata.Com-Vihara Dharmayasa Kuta, Kabupaten Badung, Bali dalam perayaan Hari Suci Waisak 2555 tahun 2011 terbuka bagi wisatawan dalam dan luar negeri yang sedang menikmati liburan di Pulau Dewata ikut serta dalam kegiatan ritual umat Budha.
Keterbukaan bagi umat luar daerah maupun luar negeri itu diterapkan sejak awal, sehingga setiap perayaan Waisak pelancong ikut berbaur mengikuti perayaan Hari Tri Suci Waisak.
Perayaan detik-detik waisak ditandai dengan meditasi dan persembahyangan Waisak Santuti Cita. Kegiatan ritual di Vihara Dharmayasa akan dimulai, Selasa (17/5) pagi, hingga puncaknya malam hari. Sementara kegiatan di masing-masing rumah tangga mulai, Senin (16/5) malam.
Menjelang detik-tetik peringatan Waisak diawali dengan Pradiksa, yakni umat mengelilingi patung Budha dengan arah berlawanan jarum jam. Vihara yang berkapasitas 500 orang itu bisa ditingkatkan dua kali lipat dengan pemasangan tenda pada halaman vihara, sehingga tidak masalah jika wisatawan ikut ambil bagian dalam kegiatan ritual tersebut nanti malam, jelasnya.
Perayaan kali ini dilakukan secara sederhana dan khidmat yang dipimpin oleh Bikshu Suci Rana Dharmayana. Lewat perayaan Hari Suci Waisak, umat Budha memohon agar berkah Waisak mampu membawa Bangsa Indonesia lebih sejahtera, meningkatkan rasa kebersamaan dan persaudaraan (Menyama Braya) serta menghindari perbuatan yang tidak pantas, apalagi melanggar hukum.
Perayaan Hari Waisak mengandung tiga makna penting meliputi memperingati kelahiran, kejayaan dan meninggalnya sang Budha Siddartha Gautama.
Umat manusia tidak mengetahui secara pasti puncak kejayaan dalam kehidupannya. Oleh sebab itu lewat perayaan Waisak umat Budha memohon ampun atas kesalahan yang pernah diperbuat dan dianugrahi kehidupan yang lebih baik dan terhindar dari marabahaya, harap Indra Suarlin.
Vihara yang berlokasi di tempat strategis di kawasan wisata Kuta itu dalam setiap perayaan hari-hari keagamaan umat Budha ada saja dari kalangan pelancong yang ikut serta.
Ada yang menarik pada perayaan waisak di Bali, Berbeda dengan perayaan Waisak pada umumnya, umat Budha di Bali melakukan upacara dengan nuansa ritual Agama Hindu.
Sebelum pelaksanaan Puja Bhakti, umat Budha melaksanakan persembahyangan dengan menghaturkan sesajian khas Hindu Bali, yang terdiri dari buah-buahan dan canang (tempat sesaji dari janur).
Tradisi Bali memang cukup kental dalam setiap tahapan prosesi perayaan. Ruangan suci pagoda dan patung-patung suci lainnya, semua dipasangi canang sari.
Tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun temurun, karena keberadaan Umat Bundha dan Hindu di Gianyar khususnya, sudah berdampingan sejak abad ke-10.
Menurut Romo Pendeta Made Sanjaya, salah satu rohaniawan setempat, pelaksanaan puncak Waisak akan berlangsung, nanti malam. Prosesinya dengan melantunkan lagu pujian Budhis dan pemanggilan dewa-dewa serta renungan dan permohonan kepada dewa-dewa.[kll]
| < Prev | Next > |
|---|

