Griyawisata.com, Buddhagaya Watugong, di Jalan Perintis Kemerdekaan Semarang semakin menunjukkan perannya bukan cuma sebagai tempat ibadah umat Buddha, tetapi juga bermisi wisata religius, sekaligus memiliki misi pendidikan. Vihara ini merupakan salah satu tempat ibadah yang memiliki perkembangan pesat yang menjadi kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial, khususnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Dalam 10 tahun terakhir ini pulalah, perkembangan Vihara Buddhagaya terus memperlihatkan suatu nilai yang lebih positif dan bermanfaat bagi umat Buddha maupun masyarakat umum.
Di era reformasi yang menjadi salah satu alam tahapan perkembangan vihara tersebut, membawa angin segar bagi umatnya yang sebagian merupakan warga keturunan Tionghoa untuk lebih bebas mengekspresikan kegiatan peribadatan, serta tradisi dan budaya Tionghoa.
Masyarakat berbagai etnis pemeluk Buddha, acapkali berbondong-bondong untuk melakukan kegiatan peribadatan di vihara tersebut. Demikian juga masyarakat umum, banyak terlihat berdatangan untuk sekadar menyaksikan keindahan Pagoda Avalokitesvara Boddhisatva yang menjulang tinggi, di tepi jalur jalan raya Semarang-Ungaran.
Umatnya yang sebagian merupakan warga keturunan Tionghoa, di samping umat Buddha dari etnis lain yang bersembahyang di vihara tersebut, merasakan betul perkembangan vihara tersebut, baik peribadatan maupun tradisi-tradisi budaya Tionghoa yang diadakan.
Maklum saja, warga etnis Tionghoa merasa bahwa suatu terobosan baru setelah reformasi, di mana pemerintah mempunyai pengertian untuk mendengarkan aspirasi warga Tionghoa, yang selama 32 tahun kebebasan di dalam tradisi budaya Tionghoa yang boleh dikata mendapatkan larangan atau rintangan untuk menggunakan bahasa Mandarin. Demikian juga belajar bahasa Mandarin sangat dibatasi, sampai-sampai untuk nama saja, harus ganti dari bahasa Mandarin ke nama Indonesia.
”Setiap insan lahir ke dunia ini mempunyai suatu takdir. Tidak bisa disamakan, apakah dia negro atau berkulit lain. Demikian juga tidak bisa ditawar, mau menawar jadi orang kulit putih seperti orang Amerika. Tapi kita cuma bisa bersyukur bahwa kita telah lahir dan dibesarkan di tanah air Indonesia, kelak mati di Indonesia,” kata Halim Wijaya, Ketua Yayasan Vihara Buddhagaya Watugong.
Berkembang
Setelah masa orde baru berlalu, pemerintah mencabut aturan diskriminatif sehingga kebebasan dijamin. Kita memiliki kepercayaan, agama, tradisi dan budaya masig-masing agama. Kami berterima kasih kepada pemerintah.
Perkembangan Vihara Buddhagaya 10 tahun terakahir merupakan babak perkembangan lanjutan sejak vihara tersebut mulai berdiri pada tahun 1934.
”Setelah 500 tahun agama Buddha ‘tidur’, setelah tahun 1934 ada bhikku dari Sri Lanka, Bhikku Naraddha, telah membawa suatu ajaran yaitu Buddha Dhamma, yang diajarkan juga di Vihara Buddhagaya. Untuk lebih mengenang dan menghormati ajaran Sang Buddha, di Vihara Buddhagaya pada tahun 1954 ditanam pohon boddhi, di mana di pohon Boddhi pada masa hidupnya Pangeran Sidharta Buddha Gautama melakukan samadi selama enam tahun yang akhirnya mencapai pencerahan sempurna,” kata Halim Wijaya.
Di situlah Vihara Buddhagaya mulai menunjukkan kiprahnya, di mana para Bhikku muncul satu per satu untuk mengajarkan dhamma ke seluruh Indonesia. Dan pada tahun 2003 atas sumbangan para donatur, terwujudlah suatu bangunan megah yaitu Fedung Dharmasala, diresmikan Gubernur Jateng waktu itu, Mardiyanto.
”Dan waktu itulah kami semua pengurus dengan segala rasa syukur ingin mewujudkan Vihara Buddhagaya bisa dijadikan sebagai Center of Buddhis.
Kami selama enam tahun ini melihat, kenyataan bahwa kita punya visi dan misi kelak Vihara Buddhagaya selain dapat dijadikan sebagai tempat ibadah umat Buddha, tetapi kami juga bisa memberi peran bagi masyarakat sekitar,” kata dia.
Beberapa peran kepada masyarakat sekitar misalnya membagikan sembako pada perayaan Idul Fitri, bakti sosial kesehatan gratis, talkshow atau seminar-seminar, serta lomba-lomba untuk anak-anak SD, seringkali digelar di vihara tersebut. Di samping itu juga diberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati keindahan bangunan Vihara Buddhagaya dan Pagoda Avalokitesvara, dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berwisata di Pagoda dan taman yang ada.
”Kami bangga di mana masyarakat begitu antusias. Malahan pada tahun 2006 kita dipercaya oleh Mendiknas untuk menyelenggarakan pendidikan Kejar Paket B. Kami tingkatkan terus pengabdian di bidang pendidikan itu,” kata dia.
Setelah terbangunnya Pagoda Avalokitesvara pada tahun 2003, nama Vihara Buddhagaya lebih cemerlang, memiliki nama sebagai tempat wisata religi, sehingga tahun 2008 turut berpartisipasi mendukung program pariwisata yang digalakkan oleh pemerintah, yaitu Visit Indonesia Year[wws/stj/sr]
| Next > |
|---|

