Hal ini menjadikan persaingan pelajar dibidang Pariwisata sangat berat, terbukti mau tidak mau harus di akui bahwa kualitas pelajar dan lulusan pariwisata kita masih sangat minim. Di bidang perhotelan, misalnya, Bali belum banyak memberikan lulusan yang mampu menggeser pasukan Asing di hotel-hotel Bali.
Memang sudah saatnya, anak bangsa perlu dikawal dengan baik. Tentunya banyak Mahasiswa yang lulus dengan predikat baik. Tinggal kepedulian dan perhatian yang pasti dan jelas dari pejabat pemerintahan. Karena Jika hal ini di biarkan terus menerus, maka yang ada pelajar berpendidikan lokal selamanya tidak akan pernah menduduki general manager. Padahal, secara kualitas kita perlu uji di lapangan.
Sebenarnya, warga negara asing cukup menjadi pendidik dalam mencetak lulusan yang memiliki predikat baik dan bukan untuk di pekerjakan di Tanah Air. Jika hal ini mampu kita terapkan, kita banyak memiliki kader pekerja di bidang perhotelan dan pariwisata dan tidak perlu lagi mengkonsumsi Wrga Negara Asing utnuk duduk manis di sini.
Selama ini hampir 98 persen posisi general manager di hotel-hotel berbintang yang ada di Pulau Dewata dikuasai oleh ekspatriat dari berbagai negara di belahan dunia. Orang nomor satu di Bali itu sangat menyanyangkan kondisi tersebut, padahal di daerah tujuan wisata internasional itu memiliki banyak perguruan tinggi pariwisata/ perhotelan.
Gubernur menyarankan salah satu cara pembentukan karakter itu dengan mendidik para mahasiswa dalam satu kawasan atau diasramakan. Hal itu berguna untuk menghilangkan sifat manja dan mendorong ke arah mandiri. Selain mendorong pihak perguruan tinggi, dia juga mengajak para petinggi di universitas untuk berpikir out of the books sehingga selalu memperhatikan perkembangan zaman.
Apabila upaya gubernur bali ini mampu di aplikasikan, dan pelajar lulusan kita dapat mengekspresikan ilmunya secara bebas, dengan memberikan warna tersendiri bagi kemajuan dibidang perhotelan maupun pariwisata, akan menambah daya tarik tersendiri.[ms/ern]
| < Prev | Next > |
|---|

