GriyaWisata.Com-Ambon mulai menggeliatkan sisi social kebudayaanna. Hal ini bisa dilihat dengan mulai banyaknya kegiatan yang berhubungan dengan budaya sastra, dengan lebih dekat kepada warganya. Baru-baru ini BSE (Bengkel Seni Embun) membagikan 2011 puisi W.S Rendra yang berjudul Seonggok Jagung kepada masyarakat Kota Ambon.
Aksi bagi-bagi puisi yang digelar untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) itu, dilakukan di beberapa kawasan dan ruas jalan di pusat kota Ambon, yakni jalan Abdullalie, Jenderal Ahmad Yani, A.Y Patty dan Sultan Khairun, serta Gong Perdamaian Dunia, Ambon Plaza (Amplaz), terminal dan pasar Mardika.
Puisi "Sajak Seonggok Jagung" yang dibagikan oleh Bengkel Seni Embun, merupakan penghargaan dan bentuk kepedulian W.S Rendra terhadap dunia pendidikan Indonesia dan pertama kali dibacakan saat perayaan jelang Hardiknas, 1 Mei 1906 di Gelanggang Olahraga (GOR) Simpanglima.
Sajak karya penyair kawakan Indonesia itu, terdiri atas tujuh syair, menggambarkan tentang seorang pemuda, meskipun kurang mendapatkan pendidikan formal, mampu melihat kemungkinan otak dan tangannya bekerja mengembangkan dan memanfaatkan seonggok jagung berdasarkan apa yang diamatinya sehari-hari.
Sedangkan Seonggok Jagung tidak akan menolong pemuda yang pandangan hidupnya berasal dari buku dan hapalan kesimpulan. Hanya terlatih sebagai pemakai, tidak bermetode dan bebas berkarya yang mengakibatkan pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Sajak Seonggok Jagung juga menyatakan, pendidikan formal tidak akan berguna, apabila tidak beraplikasi pada kehidupan nyata dan membuat lulusannya tidak mampu memanfaatkan potensi yang ada di kampung halamannya.
"Puisi ini sangat cocok dan menggambarkan kondisi pendidikan di Indonesia, khususnya Maluku saat ini," kata Pembina BSE, Diaz di Ambon.
Ia berharap, Puisi Sajak Seonggok Jagung yang mereka bagikan tidak hanya dibaca saja, tetapi juga bisa ditelaah, sehingga masyarakat Kota Ambon dapat lebih kritis terhadap dunia pendidikan saat ini.
"Saya harap masyarakat yang membaca puisi ini bisa lebih kritis dan maju dalam memandang pendidikan seharusnya seperti apa. Belajar bisa di mana saja," katanya. [bd/kll]
| < Prev | Next > |
|---|

