GriyaWisata.Com-Memendam ari-ari itu merupakan salah satu upacara yang umum dilakukan oleh beberapa masyarakat adat di Indonesia. Ari-ari adalah usus penghubung antara ibu dan bayi ketika masih dalam rahim.
Ari-ari atau plasenta disebut juga dengan aruman atau embing-embing atau mbingmbing. Bagi orang Jawa, ada kepercayaan bahwa ari-ari merupakan saudara bayi tersebut oleh karena itu ari-ari dirawat dan dijaga sebaik mungkin, misalnya di tempat penanaman ari-ari tersebut diletakkan lampu sebagai penerangan. Artinya, lampu tersebut merupakan simbol pepadhang bagi bayi. Pemagaran di sekitar tempat penanaman ari-ari dan menutup bagian atas pagar juga dilakukan agar tidak kehujanan dan binatang (seperti katak) tidak masuk ke tempat itu.
Masyarakat Jawa percaya bila ari-ari itu sejatinya salah satu saudara empat atau saudara kembar si bayi. Oleh karenanya ari-ari harus senantiasa dirawat dan dijaga, sebagaimana kita menjaga bayi kita. Setelah ari-ari dicuci bersih, masukkan dalam kendhil (bejana dari tanah liat), dan ditanam di depan rumah. Ingat, di depan kanan rumah, bukan di belakang rumah. Filosofinya, orang tua harus mengantarkan anak ke masa depan, bukan anak mengiringi apa kata orang tuanya. Oleh karenanya, yang memedham kendhil berisi ari-ari ini haruslah ayah bayi, sebagai kepala keluarga. Bila ayah bayi tidak ada, atau pergi kerja di tempat jauh, bisa diwakilkan ke kakek bayi.
Di beberapa daerah, ada yang mengantung kendhil di plafon atau atap rumah, ada juga yang menggantungnya di dahan pohon. Setiap daerah memiliki adat sendiri-sendiri. Namun hampir semua berprinsip, ari-ari harus dijaga selama 40 hari pertama (ada yang menyebut selapan atau 35 hari). Oleh karenanya kendhil tersebut diberi lampu selama 40 hari. Belum ada penjelasan yang detil, namun lampu digunakan sebagai penerang agar ari-ari tidak dimakan kucing atau tikus. Beberapa daerah meyakini lampu bisa menghindarkan diri dari serangan makhluk halus yang mau memakan ari-ari. Filosofisnya, lampu untuk pepadhang (penerang) agar bayi ‘terang’ jalannya.
Tata caranya adalah sebagai berikut :
1. Ari-ari dicuci sampai bersihdan dimasukkan kedalam kendhi ataubatok kelapa.
2. Sebelum ari-ari dimasukkan alas kendhi diberi ”godhong senthe” lalu kendhi itu ditutup dengan lemper yang masih baru dan dibungkus kain mori.
3. Kendhi lalu digendong, dipayungi, dibawa ke lokasi penguburan.
4. Lokasi penguburan kendhi harus berada di sebelah kanan pintu utama rumah. Yang memendam kendhi harus bapak dari bayi.
Terdapat beberapa variasi cara merawat ari-ari. Meskipun berbeda cara, variasi-variasi tersebut pada dasarnya mempunyai esensi yang sama, yaitu merawat ari-ari yang dipercaya sebagai saudara kembar si bayi. Selain yang telah tersebut di atas, yaitu dikubur, ari-ari dirawat dengan langsung dilabuh di sungai. Variasi yang lain adalah ari-ari digantung di luar rumah. Bila anak sudah besar, ari-ari itu dilabuh sendiri oleh anak tersebut.[kll]
| < Prev | Next > |
|---|

