Griyawisata.com, Kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor kerap dituding menjadi penyebab bencana banjir mana kala musim penghujan tiba. Hal ini terjadi karena kawasan itu kini telah mengalami degradasi lahan dan lingkungan. Dengan kondisi ini, Pemda Kabupaten Bogor pada masa Bupati Ediyoso Martadipura sekitar tahun 1987 pernah berusaha untuk mengurangi beban Puncak dengan membangun objek wisata baru di Gunung Salak Indah (GSI) di Kecamatan Cibungbunglang, beberapa kilometer arah barat Bogor.
Namun, sampai sekarang proyek wisata Gunung Salak Indah yang semula akan dijadikan alternatif kawasan Puncak itu tak pernah jadi kenyataan. Pasalnya, minat investor untuk berusaha di sektor pariwisata di GSI sangat minim. Pembangunan untuk alternatif kawasan wisata Puncak itu, hingga sekarang dilakukan merangkak karena minimnya dana.
Andai pun terlaksana, apakah masih ada orang yang berminat ke sana, bila kondisi infrastrukturnya saja belum dibenahi? Apalagi, kemacetan yang terjadi di jalur Bogor Dermaga, Leuwiliang, saat ini kondisinya sudah sangat parah.
"Masih banyak yang harus dikembangkan bila GSI akan dijadikan tujuan wisata alternatif setelah kawasan Puncak, terutama infrastrukturnya dan objek wisata itu sendiri yang berkaitan dengan daya tarik pengunjung," ujar Muhamad Sjahuri, Kepala Bagian Humas Pemda Kabupaten Bogor kepada Pembaruan, baru-baru ini.
Menurut Sjahuri, sampai saat ini pembangunan kawasan wisata alam (back to nature) GSI yang masuk skala prioritas pembangunan di sektor pariwisata, masih didanai dari APBD, yang nilainya berkisar kurang lebih dua miliar rupiah.
Karena itu, Pemda Kabupaten Bogor sangat berharap ada pihak swasta yang mau berinvestasi pada kawasan GSI yang dinilai tidak kalah menarik dibanding objek wisata Puncak. Selain itu, bila GSI dikelola dengan baik maka sangat menjanjikan untuk berinvestasi di sektor pariwisata ke depan. Selain itu, GSI juga akan memberikan kontribusi bagi pemda setempat.
Ada beberapa lokasi wisata yang menarik yang ada di kawasan GSI diantaranya, wisata alam air terjun Curug Ngumpet yang berlokasi di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan. Dari lokasi Kantor Desa Gunung Sari ke lokasi objek wisata ini berjarak sekitar sembilan kilometer, dilanjutkan berjalan kaki setapak sejauh 200 meter ke lokasi air terjun dengan ketinggian 45 meter. Luas areal wisata ini mencapai 3.000 hektare yang mulai dikelola Diparsenibud Kabupaten Bogor sejak 1991 hingga sekarang.
Selain itu, terdapat juga air terjun Curug Cigamea di desa yang sama, dengan luas areal mencapai 5.000 hektare. Air terjun dengan ketinggian 50 meter ini dibangun sejak tahun 1995. Masih di daerah yang sama ini juga terdapat objek wisata alam air panas Gunung Salak yang luasnya mencapai 10 hektare. Selain itu, di areal GSI sendiri terdapat air terjun Curug Seribu, yang memiliki ketinggian 100 meter.
Tempat lain yang menarik di kawasan GSI ini yakni kawah ratu dengan aktivitas kepundan yang mendidih dan mengeluarkan gas asam sulfat (H2S) sepanjang harinya. Di lokasi kawah ratu ini terkadang terdengar suara gemuruh akibat semburan uap air panasnya yang membentuk kabut.
Saat ini, lokasi kawah ratu seluas 30 hektare dan berada di ketinggian 1.338 meter di atas permukaan laut (dpl), serta suhu berkisar 10 sampai 20 derajat celcius tersebut dikelola oleh PT Perhutani KPH Bogor. Selain kawah ratu, terdapat juga kawah mati satu dengan ketinggian 1.330 M dpl dan kawah mati dua denga ketinggian mencapai 1.335 M dpl.
Tempat lain yang juga tak kalah menarik dan perlu dikembangkan di Bogor Barat ini adalah Goa Gudawang yang memilki luas sekitar 2,5 hektare di Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg. Di areal wisata alam ini terdapat 13 goa yang termasuk besar dan masih banyak lagi goa-goa kecil lainnya. Namun, hingga kini yang telah dikelola baru tiga goa yakni, Goa Simenteng, Goa Simasigit, dan Goa Sipahang.[wlmn/yd]
| < Prev | Next > |
|---|

