Griyawisata.com, Batik alam yang diproduksi dengan pewarna alami makin diminati. Kualitasnya tinggi dan mampu bertahan puluhan tahun. Limbah yang dihasilkan ramah lingkungan dan aman untuk kesehatan. Karena zat-zat yang terkandung dalam pewarna alami mudah terurai. Tidak menimbulkan polusi.
Hanya saja, keunggulan batik alam tidak didukung kondisi saat ini. Para pengrajin batik alam sulit memenuhi permintaan secara cepat. Karena memerlukan waktu lama dalam proses pembuatan. Ketersediaaan bahan baku pewarna alam pun masih sangat minim.
"Bahan pewarna alam sebenarnya bisa diperoleh dengan cara mengekstrak bagian-bagian dari tumbuhan penghasil celup, seperti batang, kulit kayu, daun, akar-akaran, bunga, biji-bijian, buah-buahan, dan getah pohon, "Annissa Saraswati mahasiswa FMIPA UNY dari jurusan Kimia dan Devy Indah Lestari jurusan Pendidikan IPA, serta Bexzy Kurnilasari dari jurusan Pendidikan Teknik Busana FT UNY, yang mengeksploitasi kulit manggis sebagai pewarna alam untuk kain batik.
Mereka tertarik melakukan penelitian tersebut karena mengetahui kulit manggis mempunyai bayak kandungan kimia dan sangat menguntungkan. "Kulit manggis mempunyai pigmen warna yang cocok dijadikan pewarna serta mengandung sejumlah pigmen yang berasal dari dua metabolit, yaitu mangostin dan -mangostin," jelas Annissa jika semua kandungan yang terdapat pada buah manggis diekstraksi, maka akan diperoleh bahan pewarna alami berupa antosianin yang menghasilkan warna merah, ungu, dan biru.
Kulit buah manggis juga mengandung flavan-3,4-diols, yang tergolong senyawa tannin yang dapat digunakan sebagai pewarna alami pada kain. "Tannin merupakan salah satu zat warna yang terdapat dalam berbagai tumbuhan, dan yang paling baik ada di dalam manggis," kata dia.
Devy menambahkan, selama ini bahan pewarna alami yang digunakan antara lain daun pohon nila (Indofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleans arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (curcuma), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), dan daun jambu biji (Psidium guajava).
Pembuatan pewarna alami kain batik meliputi dua tahap. Dibutuhkan dua kilogram kulit manggis kering yang dapat menghasilkan 80 liter pewarna. Tahap pertama, menjad kulit manggis menjadi pewarna alam dan tahap kedua pembuatan kain batik dari pewarna kulit manggis.
Proses pembuatan pewarna alam dimulai dengan mencuci kulit manggis, dikeringkan dan dihaluskan agar dalam ekstraksi mendapatkan hasil sempurna, lalu diblender. Kemudian dimasukkan dalam petroleum eter. Setelah lemak dipisahkan, kulit manggis diekstrak menggunakan etanol 95 persen, sedangkan larutan basa berair diekstrak dengan klorofom agar tannin terpisah dengan senyawa lainnya. Selanjutnya diuapkan untuk mendapatkan kristal warna coklat yang digunakan untuk mewarnai batik.
Untuk pembuatan kain batik dari pewarna kulit manggis, dengan membat motif diatas lain lebih dahulu lalu dilakukan perekatan dengan malam untuk menahan warna. Proses berikutnya disebut medel yaitu pencelupan warna dasar kain pada zat warna yang berasal dari pengenceran kristal kulit manggis.
Berikutnya ngerok atau menghilangkan malam klowongan dan pengunaan malam ketiga (mbironi) disambung dengan menyoga atau pencelupan zat warna yang kedua, ditambah memfiksasi kain dengan fiksator. Proses ini dilakukan berkali-kali sampai mendapatkan warna yang didinginkan.
Selanjutnya mbabar atau nglorod yaitu pembersihan seluruh malam yang menempel di kain dengan cara dimasak dalam air mendidih ditambah air tapioka, lalu dicuci dan dikeringkan dengan tidak terkena sinar matahari secara langsung.
Pemanfaatan kulit manggis sebagai pewarna alami kain batik diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi kain batik alam karena dapat membantu para pengrajin memperoleh bahan baku pewarna alam. Selain, menjadi sarana pengolahan limbah sehingga meningkatkan nilai guna buah manggis.[wlmn/wok]
| Next > |
|---|

